Sabtu, 27 Juli 2019

Mata Kering?! Nggak usah panik, kan ada Insto Dry Eyes

Hm, mumpung lagi weekend aku pengen curcol ah.

Biasanya weekend gini aku isi dengan kegiatan menulis, nonton drama korea atau baca buku. Kadang saking fokusnya baca buku atau nonton drama, aku bisa menghabiskan waktu seharian dengan berdiam di kamar sambil melakukan kegiatan tersebut. Ditemani kipas angin yang adem banget dan masker yang menyegarkan wajah. Sungguh akhir pekan ku yang indah. Eits, tapi kok mata ku mulai sepet, perih dan pegel.

Ya itu keluhan ku di akhir pekan, kalo pas hari kerja gimana? Ada juga.

Bekerja sebagai seorang staff administrasi di salah satu perusahaan swasta tentu membuat aku selalu berhadapan dengan layar komputer terus setiap harinya. Uhm, maksud ku 5 hari dalam seminggu waktu ku selalu dihabiskan dengan komputer. Belum lagi kebiasaan menatap layar smartphone yang emang udah berasa jadi kebutuhan sehari-hari. Mata ku lelah sebenernya, tapi mau bagaimana lagi.

Selain itu, perjalanan menuju ke kantor juga jalannya sangat berdebu sekali.  Tak jarang, mata ku jadi perih karena kemasukan debu. Kalau mulut dan hidung kena debu kan kita bisa pakai masker, lalu kalau mata gimana? Masa pakai masker mata. Hm.

Ah, sampai aku coba searching di mbah google, aku baru tau kalau mata sepet, mata pegel, mata perih, mata lelah yang jadi keluhan ku selama ini merupakan gejala mata kering. Hal-hal yang menjadi rutinitas ku ternyata berakibat buruk pada mata ku sendiri.

Lantas, bagaimana aku bisa menghadapi semua ini?!?!!

Nggak usah panik guys!

Mata kering umumnya dirasakan oleh orang yang berusia lanjut, tapi nggak menutup kemungkinan juga yang berusia muda juga merasakan hal sama. Apalagi rutinitasnya sama kayak yang aku alami.

Beruntung mata sepet, mata pegel, mata perih, mata lelah yang ku alami itu adalah gejala dari mata kering saja, sebelum mengarah ke hal yang serius akan lebih baik jika menanggulanginya sejak dini.

Dengan apa?

1.  Melindungi mata dari lingkungan yang menyebabkan mata kering, seperti cuaca berangin, berasap  atau berdebu. Hindari lingkungan tersebut pokoknya, atau gunakan kacamata sebagai pelindung.

2.     Hindari dulu pemakaian riasan pada mata untuk sementara

3.     Mengatur lama kerja di depan layar komputer

4.    Banyak mengonsumsi asam lema omega 3 yang dapat memperbaiki kondisi mata kering. Omega 3 banyak terdapat pada beberapa jenis ikan.

5.    Dan solusi paling simpel adalah dengan menggunakan Insto Dry Eyes. Yap, karena insto dry eyes ini  memiliki kandungan yang dapat berperan sebagai air mata buatan.

Kenapa bisa?




Jadi insto dry eyes ini mengandung bahan aktif yang dapat mengatasi kekeringan pada mata dan dapat digunakan sebagai pelumas pada mata. Selain itu, insto dry eyes juga memiliki bahan aktif yang dapat membunuh bakteri.

Kandungannnya lengkap banget kan buat yang punya rutinitas kayak aku.

Insto dry eyes ini ukurannya lumayan mini. 7,5 mL dong ukurannya, tentu hal ini memudahkan kita untuk membawanya kemana aja. Diselipin dalam pouch P3K-nya buat yang hobi traveling bagus banget nih.

Aturan pakainya juga mudah, cukup teteskan 1-2 tetes pada setiap mata, 3x sehari atau sesuai anjuran dokter.

Kesan pertama pas netesin insto dry eyes ini ke mata nggak ada sensasi perih atau apa gitu, rasanya biasa aja. Kayak air mata.

Lalu masalah harga? Kalian nggak usah ragu, karena harganya terjangkau sekali dan produknya juga mudah ditemukan di apotik terdekat.

Kandungan lengkap, ukuran travel-friendly, cara pakai mudah dan harga oke, Insto Dry Eyes ini udah paket lengkap banget untuk mengatasi gejala mata kering dan harus ada terus buat pertolongan pertama pada mata kering.

Share:

Minggu, 21 Juli 2019

Yuk, Kenalan dan Mulai Berperan Aktif Dalam Pemanfaatan dan Kelestarian Sumber Pangan




Tahukah kalian, jika setiap tanggal 22 Mei itu diperingati sebagai Hari Keanekaragaman Hayati Sedunia (International Day for Biological Diversity). Untuk peringatan Hari Keanekaragaman Hayati tahun 2019 sendiri mengangkat tema ‘Sustainable Use Of Biodiversity for Our Food and Health’ yaitu upaya meningkatkan pengetahuan dan menyebarkan kesadaran tentang ketergantungan sistem pangan, nutrisi dan kesehatan kita pada keanekaragaman hayati dan ekosistem yang sehat.

Duh, kayaknya topiknya bakalan berat. Skip aja deh.

Eits, jangan dulu!

Pengetahuan dan kesadaran tentang betapa ketergantungannya kita pada sumber pangan, nutrisi dan ekosistem yang sehat itu penting loh, apalagi untuk generasi millenial jaman sekarang. Harapannya, dengan kita memiliki bekal pengetahuan akan muncul kesadaran untuk menjaga, melestarikan dan mengembangkan sumber pangan yang berpengaruh pada kesehatan kita sendiri dan ekosistem.

Biar anak cucu kita nanti masih bisa menikmati, guys!

Oiya, katanya Hari Keanekaragaman Hayati, tapi kok fokusnya ke sumber pangan dan kesehatan sih, bukannya keanekaragaman hayati itu tentang satwa, tumbuhan atau habitat mereka aja?

Keanekaragaman Hayati itu pengertiannya luas bos ku. Nggak melulu tentang satwa, tumbuhan atau tempat tinggal mereka. Biar lebih jelas, sini deh, ku jabarin pengertian sesungguhnya tentang keanekaragaman hayati.

“Keanekaragaman Hayati adalah tingkat variasi bentuk kehidupan, mencakup ekosistem bioma spesies atau seluruh planet. Keanekaragaman hayati juga merupakan tolak ukur dari kesehatan ekosistem dan sebagian fungsi dari iklim.”

Setelah membaca pengertiannya, ada yang masih belum ngeh sama apa itu keanekaragaman hayati?

Kalo gitu, aku kasih contoh pemanfaatannya dalam kehidupan sehari-hari aja.



Selama ini, kita sebagai manusia sudah begitu banyak memanfaatkan bentuk keanekaragaman hayati untuk kebutuhan primer. Apa aja sih? Makan contohnya. Di dalam makanan kita ini kan, ada nasi, sayur, ikan, daging, buah dan teman-temannya.

Apalagi di Indonesia sendiri, makanan pokok terdiri dari berbagai macam jenis, tergantung daerah masing-masing. Ada yang makanan pokoknya jagung, sagu, singkong, ubi jalar, talas, gandum, kentang dan yang jadi mayoritas adalah beras.

Yap, sampai sini udah paham kan, kenapa tahun ini tema peringatan Hari Keanekaragaman Hayati itu tentang sumber pangan dan kesehatan kita. Karena emang sepanjang hidupnya manusia itu nggak bisa lepas dari kebutuhan pangan.

Semakin tahun pula, kebutuhan akan pangan juga semakin meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk. Sedangkan lahan, ekosistem dan jumlah petani masih belum mampu mengiringi lajunya kebutuhan tersebut.

Belum lagi terkait fakta dari Economist Intelligence Unit (EIU) tahun 2016 menyebutkan bahwa Indonesia sebagai salah satu penyumbang sampah makanan terbesar di dunia, padahal mirisnya masih banyak penduduk yang belum tercukupi kebutuhan pangannya. Penduduk kurang gizi dan busung lapar masih ada di negara kita yang tercinta ini.




Meskipun isu ini sudah beredar cukup lama, tapi tak ada salahnya jika hal ini kita jadikan sebagai referensi mengapa kita harus mulai memberi perhatian kepada ekosistem, sumber pangan dan kesehatan kita. Ternyata semuanya saling memiliki keterkaitan demi berlangsungnya kehidupan di bumi.

Sebenarnya masih ada banyak lagi isu terkait masalah ini, hanya saja cukup berkaca dari 2 isu tersebut kita seharusnya sudah memiliki kesadaran untuk berubah. Berubah menjadi generasi yang peduli dengan ekosistem, sumber pangan dan kesehatan.

Iya nih, terus gimana caranya agar kita kita generasi muda ini juga bisa memberi kontribusi dan berperan aktif dalam menghadapi masalah ini?

Caranya gampang banget.

Yang sulit itu menerapkan dalam kehidupan sehari-hari, karena pasti ada aja tantangannya. Tapi ku harap, kalian pembaca tulisan ini merupakan orang-orang yang tangguh, orang yang peduli dengan keberlanjutan sumber pangan dan kesehatan.

Oke, langsung aja disimak tentang bagaimana langkah kecil kita untuk menjaga, memanfaatkan dengan bijak dan melestarikan sumber pangan, baik untuk kesehatan kita sendiri maupun ekosistem.

1.    Ubah Mindset

Untuk melakukan suatu tindakan, tentu kita pasti mempunyai dasar tertentu yang kita tanamkan dalam hati dan pikiran. Sebuah niat yang dilakukan terus secara konsisten hingga membentuk suatu mindset yang menjadi dasar kenapa kita melakukan hal tersebut.

Sebelum kita melangkah, ada baiknya kita harus mengubah mindset dulu. Kenapa? Karena disaat kita sudah mulai ragu dengan apa yang kita lakukan dan orang sekitar juga mulai meremehkan tindakan kita, kita mampu memberikan dan menjelaskan kepada mereka mengapa kita memulai.

Mulai sekarang, ayo kita tanamkan pada diri kita agar berubah dan mau melakukan tindakan sekecil apapun yang bisa kita lakukan, serta peduli dengan lingkungan sekitar, demi anak cucu kita bisa merasakannya di masa depan.


2.    Mulai dari Diri Sendiri

Setiap perubahan besar selalu dimulai dari hal-hal kecil. Nggak usah berbicara tentang ruang lingkup yang masih belum tentu bisa kita kontrol, kita mulai dari diri sendiri aja dulu. Asal dilakukan dengan konsisten, tentu akan mengundang perhatian orang lain.

Mereka yang tertarik dengan apa yang kita lakukan, mungkin akan bersimpati dan turut melangkah bersama kita juga. Percayalah, guys, siapa lagi yang akan memulai kalau bukan diri kita sendiri!


3.    Take Action

Setelah menanamkan mindset dan yakin untuk memulai, segeralah untuk take action!

Yap, karena masalah yang kita hadapi ini terkait dengan kebutuhan pangan berbanding terbalik dengan ketersediaan pangan. Maka langkah yang mungkin bisa kita lakukan adalah dengan ikut melestarikannya.

Seperti yang kalian ketahui, jumlah petani sekarang semakin berkurang. Karena mungkin anak muda jaman sekarang juga menganggap pekerjaan ini tidak terdengar begitu keren dikalangan mereka. Padahal peran petani ini sangat besar loh, selain untuk memenuhi kebutuhan keluarga, karena mereka jugalah Indonesia mendapat julukan negara agraris.

Nggak melulu karena petani, lahan yang akan digarap juga mulai berkurang seiring dengan berubahnya lahan lahan tersebut menjadi pemukiman warga ataupun gedung bertingkat.

Ditengah begitu banyaknya masalah yang dihadapi, lantas kita menyerah? BIG NO!

Suatu keterbatasan akan menjadi peluang jika kita mampu dan siap dalam berinovasi.




Jaman sekarang teknologi sudah sangat canggih ya, semuanya jadi terasa mudah untuk mengakses informasi dan berkomunikasi. Karena itu, tidak ada salahnya untuk coba belajar dan mencari referensi disana, contohnya mengulik tentang apa yang petani di Jepang lakukan agar tetap bisa bertani meskipun luas lahan tidak memadai.

Nggak cuma itu aja guys, banyak sekali hal positif yang bisa kalian lakukan di era digital seperti ini. Segalanya jadi semakin mudah untuk mengakses berbagai macam hal, belajar hal baru dan melakukan inovasi terkait dengan masalah yang kita hadapi.

So, ditengah segala kemudahan sekarang ini, kalian mau, hanya jadi millenial yang hobi mantengin sosmed doang dengan tatapan hampa dan tanpa hasil apa-apa. Kalo buat yang menghasilkan mah, gapapa sih. Hehehe.


4.    Bijak dalam Makan dan Memilih Makanan

Masalah kita nggak hanya tentang petani dan lahannya, tapi juga tentang angka limbah makanan yang dihasilkan masih begitu tinggi.

Mulai sekarang, coba deh untuk menghemat. Ambil makanan yang emang mau dimakan dan makan dalam porsi yang emang perut kita perlunya segitu. Jangan berlebihan. Jangan kalap juga ngeliat tampilan makanan yang semakin unyu unyu terus bikin kita serakah pengen makan semuanya. Itu nggak baik guys!

Selain bikin gendut, coba pikirin deh, masih banyak orang dibelahan bumi lain yang belum makan. Nggak usah ngomongin manusia dibelahan bumi lain, temen kalian yang ngekos itu, coba sekali sekali tanya, sudah makankah ia hari ini?

Kalau udah gitu, alangkah lebih baiknya kita yang lagi berlebihan dalam hal makanan berbagi dengan mereka. Tentunya, jangan lupa perhatikan kebutuhan gizi juga ya!

Pakai rumus 4 sehat, 5 sempurna.


5.    Jangan Cemari Lingkungan

Nggak adil rasanya kalau kita memanfaatkan sumber pangan dari alam, tapi nggak menjaga alam itu sendiri. Menjaga alam dan ekosistem didalamnya juga salah satu tugas kita guys!

Contohnya, jangan cemari lingkungan.

Jangan buang sampah sembarangan, terapkan prinsip 3R, jangan gunakan lagi kemasan sekali pakai, jaga kebersihan sungai, jangan menggunakan pestisida berlebihan, dan masih banyak hal kecil lainnya yang bisa kalian lakukan.

Apa aja lagi?

Kalau mau tahu lagi contoh lainnya, kalian bisa follow akun gerakan peduli lingkungan yang beredar di sosial media dan stalking kegiatan mereka. Selain mengedukasi, kalian juga jadi semakin tergerak untuk ikut melakukan gerakan tersebut.

Kuy, isi sosial media kalian dengan konten yang bermanfaat, jangan cuma dimanfaatin buat stalking mantan sama pacar barunya. Ups!
Share:

Selasa, 09 Juli 2019

#FBBKolaborasi Lomba Kreasi Buah Lokal


Yayy!!

Postingan pertama aku yang diikutsertakan dalam blog collab FBB Kolaborasi bersama member komunitas fbb lainnya. Seneng banget bisa resmi jadi bagian dari komunitas ini dan bisa ikut FBB Kolaborasi bulan ini.

Tema blog collab bulan ini adalah hari buah seduniaaaaa...

Oke, aku terlalu bersemangat.

Begitu tau temanya tentang hari buah, pikiran aku langsung melayang flashback sama acara waktu SMP kelas satu dulu, sekitar tahun 2011. Semester pertama.

Jadi waktu itu, di Tanjung lagi musim buah. Buah-buahan lokal khususnya, seperti rambutan, langsat, manggis, durian, kasturi –sejenis buah mangga tapi bentuknya lebih kecil- dan masih banyak banget lainnya. Jumlahnya pun sangat melimpah, sehingga kalo dijual pun orang nggak berani ngasih harga tinggi. Banyak saingan soalnya.

Melihat melimpahnya buah-buahan lokal, sekolah ku inisiatif mengadakan acara kreasi menyusun buah lokal agar terlihat menarik. Masing-masing kelas wajib membuat kreasi dari buah-buahan lokal.
Kelas ku nggak mau kalah. Kita udah bikin konsep yang terstruktur, pokoknya harus beda dari yang lain. Katanya kalo menang dijanjikan hadiah misterius loh. Kita makin excited.

Mulai dari menggalang dana dan ngambil buah di rumahnya temen ku yang punya kebun, belanja belanja keperluan kecil untuk mempercantik kreasi kita nantinya. Kelas ku optimis menang.

Tapi saat sudah hari H, banyak drama yang terjadi. Konsep yang kita bikin ternyata nggak semudah yang dibayangkan. Tadinya kita mau bikin buah yang disusun menyerupai piramida buah, atau paling nggak biar keliatan kayak tumpeng buah deh.

Eh ternyata susah. Berkali-kali buahnya hancur tak tersusun, sementara waktu berjalan terus, penyebabnya stok buah yang kami punya ini nggak mencukupi ekspektasi pemirsa. Seberapapun kerasnya mencoba untuk membangun lagi, tetap saja tumpengnya ini nggak mau kokoh berdiri.

Ku lihat kelas lain sudah setengah jalan, kelas kami masih belum terbentuk apa-apa. Keadaan mulai kalut.

Ditengah kekalutan tersebut, wali kelas ku datang memberi sebuah pencerahan setelah kami terjebak dalam kegelapan. Persis kayak cahaya dari pintu keluar bioskop yang baru selesai tayang.

Beliau menyarankan sebuah ide brilian. Buahnya ditempelin di batang pisang biar dia bisa berdiri kokoh. Dengan langkah sigap, siswa cowok langsung mencari batang pisang di hutan belakang sekolah. Sementara beberapa siswa cewek membeli beberapa lidi kecil untuk menyatukan buah tersebut ke batang pisang.

Nggak butuh waktu lama, kreasi kami pun jadi. Emang bener-bener berbeda dari kelas lainnya. Kami patut berbangga hati.

Dasar emang kelas sombong. Sok berbangga hati duluan, eh ternyata nggak masuk dalam list pemenang. Hahahaha

Kreasi kami mungkin emang paling beda sendiri, tapi ternyata nggak termasuk dalam kriteria penilaian panitia. Mungkin kalo penilaiannya memasukkan kategori kreasi buah paling absurd, tentu kelas ku pemenang utamanya.

Meski begitu, kami nggak kecewa. Toh ternyata hadiahnya cuma peralatan bersih bersih wkwkwk
Eits, yang terpenting setelah acara itu selesai, kita bisa nyicipin buah buah tersebut. Kyaaaaaa, ini momen yang paling ditunggu-tunggu daritadi.

Aku tersenyum kecil mengingat kejadian itu. Rindu sekali.

Sekarang aku hanya bisa mengingat cerita dibaliknya melalui foto ini.



Maafkan pemirsa.

Muka teman-teman ku sengaja ku tutupin biar mereka nggak terkenal. Ehm, maksud ku ini foto aib. Nggak baik ngeshare aib orang lain, makanya kalian fokusnya ke buahnya aja.

Sekian dulu yang bisa aku ceritakan disini, semoga bisa berpartisipasi kembali dalam blog collab FBB Kolaborasi bulan depan. See you:)
Share: