Tampilkan postingan dengan label Traveling. Tampilkan semua postingan

Pulau Patai, Hidden Paradise of Barito Timur


Akhir pekan minggu lalu, aku mengunjungi salah satu wisata yang ada di Kabupaten Barito Timur, Kalimantan Tengah. Momentumnya pas banget karena bulan ini ada Hari Air Sedunia dan Hari Hutan Sedunia, aku bersyukur bisa berkunjung kesini. Waktu tempuhnya lumayan singkat -dari kota Tanjung- dan menurut testimoni memuaskan dari teman-teman yang pernah kesana, aku memutuskan menghabiskan waktu disini.

Adalah Pulau Patai. Sebenarnya nama tempat wisata ini adalah Wisata Alam Patai Suku Hawa (Pasuha), tapi karena terletak di desa Pulau Patai. Orang-orang lebih sering menyebutnya Pulau Patai.


Coba saja kalian search di google maps, nama Pulau Patai. Pasti yang muncul seperti location unknown, tempat yang tak terjamah, jauh dari kota dan nggak ada jalan buat kesana. Aku juga pertama kali tahu sempat berpikir, "kok bisa ya orang-orang nemu jalannya?"


Setelah ditelusuri, ternyata aku yang salah ketik kata kunci. Hahaha. Harusnya pakai kata kunci Wisata Alam Pasuha dan tadaaaa you find way to there.


Baca juga : Ngabuburit di Taman Bunga Poska


Sebelumnya juga tak banyak yang tahu kalau tempat wisata ini sudah buka dari tahun lalu, tapi karena bertepatan dengan masuknya pandemi di Indonesia membuat mobilitas pengunjung minim. Apalagi sempat diterapkannya lockdown. Beruntung sekarang, meskipun perlahan, kita sudah mulai bisa beraktivitas diluar lagi meskipun tetap harus menerapkan prokes.


But it's okay, demi kebaikan bersama.


Bermodal google maps sebagai navigator, kami pun menuju Pasar Tamiyang Layang sebagai titik temu pertama. Kemudian menuju Desa Serapat, disini google maps mulai ngaco seiring dengan jaringan yang mulai hilang-hilangan. Kami kehilangan arah.


Menurut ku, disinilah seninya melakukan perjalanan. Ketika kamu kehilangan arah ditempat yang belum pernah dikunjungi, disitu mau nggak mau kita dipaksa untuk keluar dari zonanya kita. Kita yang sebelumnya pemalu atau sehari-harinya lebih banyak diam, mau nggak mau harus berani bertanya pada warga setempat. Orang yang nggak kita kenal.


Sebagai overthinker, tentu saja banyak hal yang berseliweran di kepala ku. Tapi rasa untuk menemukan 'jalan yang benar' lebih besar dari sekadar menuruti jalan pikiran. Ternyata kami lepas dari rute seharusnya, tapi berkat clue dari warga kami menemukan jalan yang benar lagi menuju Desa Pulau Patai. Maklum, jalannya masih belum ada papan nama.


Dari belokan tersebut, kami hanya perlu terus berjalan lurus. "Desanya paling ujung," kata salah satu warga. Aku mulai overthiniking kembali.


Setelah kurang lebih 15 menit, kami pun sampai di ujung jalan beraspal. Tepat di depan kami ada jembatan kayu dengan titian yang cukup panjang, diatasnya bertuliskan ‘Wisata Alam Pasuha’.


BINGO!





Tidak butuh waktu lama kami pun parkir dan mengeksplor jembatan dengan titian kayu tersebut. Rutenya cukup panjang, menjorok ke dalam memasuki kawasan hutan. Sesekali di sampingnya ada gazebo untuk bersantai. Tapi sangat disayangkan infrastrukturnya sudah mulai rapuh karena terbuat dari kayu seadanya. Mungkin karena tempat wisata ini berjalan hanya dari warga sekitar dan tidak ada peran pemerintah daerah untuk lebih mengembangkan tempat ini.


Setelah puas mengeksplor, kami pun menuju icon Pulau Patai tersebut menggunakan perahu yang disewa dari warga, cukup membayar 25 ribu per orang. Jumlah ini untuk penumpang maksimal 6 orang. Jika kurang dari itu maka kalian harus mengeluarkan budget lebih.



Baca juga : Liburan ke Nateh


Wisata menyusuri sungai pun dimulai.









Melewati sungai yang disekelilingnya masih dipenuhi rimbunnya hutan membuat ku  merasa seperti di Kalimantan banget. Yah, seperti yang kalian tahu, hutan Kalimantan saat ini sudah banyak berkurang. Dan aku bersyukur salah satunya masih tersisa tempat ini dengan akses yang mudah dijangkau pula. Kalian harus coba merasakan sensasinya.


Tadinya ku pikir setelah keluar dari hutan kita akan langsung sampai di Pulau, eh ternyata masih terus berjalan lagi. Tepatnya melewati sebuah kawasan rawa yang sangat luas. Di tengahnya terdapat kerbau rawa dan kandangnya. Sesekali kalian akan berjumpa dengan para pemancing. Ya, kawasan ini sudah terkenal lebih dulu dikalangan para pemancing lokal.


Tapi sempat terlintas dalam pikiran ku ketika berada disini, bagaimana jika didalam rawa ini ada anaconda?


Jika kalian pernah menonton film Anaconda yang berlatar di Pulau Kalimantan, maka saat berada disini, kalian akan memikirkan hal yang sama.


But ya, itu hanya sepintas overthinking ku saja. Selebihnya tempat ini menakjubkan.








Dan kalian akan bertambah kagum lagi ketika sampai di pulaunya. Sebuah dataran luas dengan pohon yang aesthetic. Masuk ke dalam lagi, kalian akan menemukan savana luas. Menurut ku damagenya seperti di afrika, hm, atau baluran mungkin. Eh.


Oke, pemikiran ku terlalu berlebihan.


Tapi aku sangat merekomendasikan tempat ini untuk dikunjungi. Selain karena budgetnya pas dikantong dan aksesnya mudah, sensasi yang ditawarkan dari pemandangan disini lebih dari sepadan.


Oh iya, jika kalian akan kesini saran ku, bawa beberapa cemilan atau minuman sendiri karena masih belum banyak yang berjualan dan jangan lupa bawa kembali sampah kalian.


JANGAN DITINGGALKAN DISINI !


Aku cukup kecewa karena saat berada di pulau aesthetic, masih ada sampah botol air mineral disana. Hei, itu sangat tidak bertanggung jawab!


Sekian cerita dari perjalanan singkat ku di akhir pekan. Kalau akhir pekan kalian bagaimana? Adakah tempat menakjubkan atau worth it untuk melepas penat yang aksesnya mudah dan dekat dengan lokasi kalian? Mari bercerita di kolom komen yaaa..


Ngabuburit di Taman Bunga Poska


Bismillah.

Postingan pertama dalam rangkaian BPN 30 Day Ramadhan Blog Challenge kali ini aku memilih tema ngabuburit.  Ngabuburit berasal dari bahasa sunda, yang artinya kurang lebih bersantai santai sambil menunggu waktu sore. Atau dalam kamus besar bahasa indonesia, ngabuburit sendiri berarti menunggu azan maghrib menjelang berbuka puasa pada waktu bulan Ramadhan.

Untuk mengisi waku ngabuburit kali ini aku memilih jalan jalan ke salah satu tempat wisata yang baru baru ini lagi hits di kota ku. Taman Bunga Poska. Tempat ini bisa jadi alternatif pilihan buat ngabuburit di Tanjung.

Dengan waktu tempuh sekitar 48 menit dari kota Tanjung, kita bisa mengisi waktu dengan berfoto ria. Disini juga nggak dikenakan biaya masuk, kita hanya cukup bayar parkir sebesar 5 ribu rupiah, setelah itu bebas menjelajah ke sudut mana pun dari Taman Bunga ini.

Karena terbilang masih baru, di taman ini bunga nya masih belum banyak jenis dan rimbun bunganya. Hanya di beberapa spot saja sih, yang sudah terlihat rampung secara visual. Sisanya, bunga masih dalam proses bertumbuh membentuk sebuah rumpun rumpun baru yang rimbun.

Sejauh yang aku lihat, bunga matahari yang banyak mendominasi tempat ini. Sedihnya di beberapa spot, bunga mataharinya udah banyak yang layu. Hiks, aku datang disaat yang tidak tepat.

Oh iya, di sekitar taman ini juga tersedia beberapa pondok kecil, cocok banget buat bersantai bersama keluarga. Orang yang jualan juga banyak banget disini, tapi kalau berkunjung saat bulan ramadhan gini rasanya jadi sia sia aja yah wkwk

Yang aku sayangkan dari tempat ini adalah, sampahnya masih berserakan. Terutama di dekat warung warung yang jualan. Bukan kesalahan pengelola dan penjual juga sih, karena pengelola taman sudah menyediakan tempat sampah di berbagai tempat yang terlihat. Dan lagi, masyarakatnya yang tidak memiliki kesadaran untuk membuang sampah pada tempatnya. Sayang aja, kalo tempat sebagus ini nanti jadi keliatan kumuh gara gara sampah.

Berikut foto foto yang berhasil aku abadikan pas kesini.










Segitu aja dulu tentang perjalanan ngabuburit aku di Taman Bunga Poska ini. Saran aku sih, kalo kesini mending pas weekend, selain pas nggak hari kerja, juga biar nggak mengganggu jadwal ibadah kita.

Bulan Ramadhan kan kesempatan terbaik untuk mengumpulkan sebanyak-banyaknya pahala, jadi jangan biarkan waktunya berlalu begitu saja. Usahakan agar kita mengisinya dengan hal-hal yang positif. Lebih bagus lagi jika bernilai ibadah, agar pahala juga terus mengalir kepada kita. Aamiin.

Liburan ke Nateh


Kalo mau ngerencanain liburan itu mending gausah dari jauh jauh hari deh, takut gak kesampean soalnya. Kayak kami dong, malamnya bikin rencana, besoknya langsung go!

No wacana wacana club.

Begitulah kenyataannya gengs.

Pastinya dengan metode kayak gini juga, yang bisa ikut cuma orang orang yang siap secara waktu, fisik dan finansial, karena itulah cuma 6 orang yang bisa ikut andil dalam perjalanan kali ini.

Perjalanan ditempuh menggunakan kendaraan roda dua dari Tanjung-Birayang selama sekitar 2 jam dengan kecepatan standar cenderung pelan kek siput. Begitu sampai ke birayang pun, kita harus masuk ke perkampungan gitu lagi sampai ke lokasi yang dituju dan itu memakan waktu sekitar 30 menit dengan kecepatan standar lagi tentunya.

Dan lagi sepanjang perjalanan ini kita hanya berpedoman sama google maps sama nanya ke orang orang gitu, kita semua nggak ada yang tahu lokasi spesifik tempat yang mau dituju soalnya.
Ini pertama kali!

Hal ini bikin aku di setiap inchi perjalanannya selalu nebak-nebak penasaran, ini ntar gimana ya? Abis ini ada apa lagi ya? Jauh lagi nggak sih?

Begitu sampai ke tempat yang dituju jadi berasa surprise banget!

Pemandangan alamnya masih asri dan indah banget. Dibawah kaki pegunungan meratus, disinilah kita akan menghabiskan waktu hari ini!

Sampai ke titik tempat wisatanya ternyata tempatnya penuh banget. Tadinya ku pikir -saat melihat  asrinya alam menuju kesini terbayang tempat yang sepi- gitu taunya malah rame deng. Lagi tanggal tanggal holiday soalnya.

Tapi gapapa. Nggak mengurangi semangat kita kok untuk mengumpulkan view bagus buat foto foto.

Jauh jauh kesini buat foto foto aja nggak seru juga dong ya, biar nggak flat kita sepakat buat nyobain arung jeram. Biayanya cuma 150k dan itu udah bisa untuk 6 orang. Worth it lah..

Oiya, kalo lagi rame gini, kita harus antri buat bisa nyobain arung jeramnya. Musti sabar yaa..

Review aku setelah nyobain arung jeram disini lumayan seru lah ya, cocok banget buat yang nggak bisa berenang tapi pengen nyoba arung jeram dan buat yang berani berani takut untuk menantang adrenalin, worth it banget buat arung jeram disini.

Karena arusnya deras tapi nggak terlalu bikin kita terombang-ambing gitu, cenderung stabil sih menurut aku. Kita juga bisa minta stop juga kalo emang ada view bagus buat foto. Recommend lah buat yang pengen berburu foto dengan tema pegunungan dan sungai ala ala manjalitah wkwk

Apaansi.

Yak, berikut ini hasil foto foto yang diambil di Nateh. Mana tau setelah baca postingan ini, kalian jadi pengen kesini hehehe