Kamis, 15 April 2021

Pencapaian Tertinggi Selama 22 Tahun

 


Hola. Kembali lagi bercerita dengan tema hari keempat yaitu pencapaian tertinggi dalam hidup.

Hm, pencapaian ya. Aku jadi mikir keras, rasanya selama 22 tahun hidup di dunia, aku belum punya pencapaian yang membuat decak kagum orang lain. Aku termasuk tipe yang gampang menyerah kalau nggak niat banget, selain itu aku juga jarang mencoba hal-hal baru. Jadi ya, hidup ku gitu-gitu aja.

Tapi demi panjangnya isi postingan ini, maka aku akan membeberkan beberapa pencapaian tertinggi yang menurut ku magical sekali. Mungkin bagi beberapa orang akan biasa aja, tapi bagi ku ini sudah cukup dikategorikan luar biasa. Kalo masih kepo, ayo disimak!

Pertama, juara satu futsal putri antar jurusan

Ini terjadi waktu SMK dulu, ngga lama banget sih, sekitar tahun 2016 an. Namanya SMK pasti terdiri dari banyak jurusan, kebetulan jurusan akuntansi ngadain event futsal yang bisa diikuti jurusan lain dalam lingkup sekolah kami.

Kelas ku juga turut meramaikan, tapi karena jumlah penduduk cowok ngga memenuhi syarat, jadilah penduduk cewek yang akan mengisi slot team futsal. Futsal putri kok, tenang aja.

Bermodal nekat kami tetap ikut meskipun nggak ada satu pun di team kami yang punya basic futsal. Jangankan itu, nendang bola ke gawang aja masih pada nggak becus. Satu-satunya yang bisa diharapkan cuma si kiper berbadan tinggi besar. Dari segi postur udah menang banyak, masalah skill bisalah menyusul.

Awal-awal hari pertandingan kami sempat dicemooh karena permainan yang lebih banyak lawaknya daripada sengitnya. Apalagi lawannya juga newbie. Tapi hari itu berakhir dengan kelas kami sebagai pemenang. Lewat tendangan penalti tentunya.

Hari pertandingan terus berlanjut dan siapa sangka kami yang sempat dicemooh karena permainan lawak malah masuk grand final melawan team inti futsal putri sekolah. Magic sekali bukan?

Nggak. Kami nggak nyogok wasit kok. Dapat duit darimana juga orang buat jajan aja masih kurang. Dan semua itu menjadi semakin magic saat grand final hari itu kelas kami keluar sebagai pemenang dengan skor 3-1. IYA, KELAS KAMI PEMENANGNYAA!!!

FIX INI SEBUAH KEAJAIBAN.

Tapi jawaban lebih logisnya mungkin karena kami cukup diremehkan sehingga team inti yang sudah terlatih ngerasa nggak perlu effort lebih untuk menghadapi kami. Dan ternyata semesta malah membalikkan keadaan.

Yah, semoga kalian bisa mengambil hikmah dari kejadian ini.

Kedua, menang lomba blog

Saat blog ku masih pakai embel-embel blogspot, aku sering insecure setiap mau ikut lomba blog. Udah kualitas tulisan meragukan, blog masih gratisan pula. Lalu aku juga berpikir kalau blog masih gratisan nggak bakalan bisa ngerasain cuan dari blog.

Memang sih kalau mau cuan yang lebih banyak lebih rekomen pakai yang berbayar, supaya bisa ads juga kan. Selain itu untuk ikut lomba yang mewajibkan domain berbayar juga bisa, jangkauan lomba lebih luas nih ceritanya.

Tapi pemikiran semacam itu nggak sepenuhnya benar. Karena saat blog ku masih blogspot pun aku pernah merasakan manisnya cuan dari blog dan menang lomba blog. Ya, meskipun memang perlu effort lebih juga sih.

Jadi hikmah yang bisa diambil, jangan insecure sebelum mencoba.

Ketiga, dapat pekerjaan

Setelah melalui proses panjang dalam mencari kerja, akhirnya sekarang aku bisa sampai di titik dimana aku sampai pada sesuatu yang dulu ku sebut sebagai pekerjaan impian. Tentunya dengan usaha sendiri serta doa orang tua.

Seperti yang kalian tahu, mencari kerja itu susah. Bermodal ijazah SMK memang sulit mencari kerja dengan gaji dan waktu yang sesuai maunya kita. Apalagi kalau kita nggak punya koneksi. Sangat sulit sekali dan aku pernah ada di titik itu.

Saat itu aku hanya bisa berpasrah dan menyerahkan semuanya pada Yang Maha Kuasa. Tak lupa juga berusaha sebisanya dan meminta doa dari orang tua.

Setelah itu aku nggak menghitung lagi waktu yang berlalu, aku hanya menjalani apa yang ada di hadapan, sampai akhirnya Allah mengabulkan doa-doa orang tua ku.

Sekarang aku bekerja dan bisa sambil kuliah. Aku juga bisa memberi sedikit kebahagiaan untuk orang tua dan adik ku. I love them.

Ah, jadi mewek kalau ingat perjalanan 22 tahun aku hidup. Ternyata cukup banyak yang ku lalui dan masih banyak pula yang mungkin luput dari ingatan. Dan mungkin cukup segini aja dulu cerita ku. Semoga bisa memberi insight buat kalian ya. Kalau untuk ku sendiri ini akan jadi reminder ketika aku down. Huhu.

Sampai bertemu di postingan besok!

Share:

3 Harapan Untuk Blog

 


Hola, kembali lagi dengan helka di hari ketiga. Gimana? masih tetap semangat puasa dan ngeblognya kan?

Dihari ketiga ini, aku ingin menceritakan tiga harapan ku untuk blog tersayang. Sesuai tema, harapan terbesar untuk blog.

Namanya harapan terbesar, ku usahain harapan yang akan ku ceritakan selanjutnya ini nggak kaleng-kaleng hehehe. Ngga apa dong, punya harapan besar asal diiringi dengan doa & action nyata sebagai bentuk ikhtiar. Mana tau terkabul kan. Hehe aamiin.

Oke, jadi harapan pertama ku adalah…

Semoga blog ini membawa ku ke tempat baru.

Lah, gimana tuh? Emang blog kayak pintu ajaibnya doraemon, yang kalo pengen kemana aja tinggal sebut namanya depan pintu?

Nggak. Bukan gitu. Maksud ku, aku ingin ke suatu kota atau luar negeri dengan perantara blog ini. Entah aku nanti menang lomba yang hadiahnya tour ke Korea Selatan atau aku bisa ikutan Blog Camp gitu di suatu kota di Indonesia.

Tapi dari semua itu, yang paling realistis menurut ku adalah dengan mengumpulkan cuan sendiri dari penghasilan blog untuk pergi traveling keluar daerah. Hehe, realistis sekali bukan? Semoga blog ku ini lekas punya penghasilan sendiri ya wkwk.

Lalu, harapan ku yang kedua adalah...

Semoga tulisan di blog ini bisa dinikmati dalam bentuk buku.

Eh, eh, gimana tuh?

Harapan ini muncul sesederhana karena melihat jejak para pendahulu blogger yang sekarang sukses menelurkan buku dan berkarir dalam industri hiburan.

Aku nggak mau sampai ke dunia hiburan juga sih, cukup bisa punya satu buku dengan aku sebagai penulisnya saja rasanya sudah wah banget.

Blogger panutan ku antara lain Raditya Dika, Gita Savitri, Alit Susanto, chaos@work (penulis My Stupid Boss), dan masih banyak lagi. Aku ingin seperti itu. Bercerita tentang kehidupan pribadi tapi dengan sudut pandang berbeda, yang lebih menghibur tapi point berfaedah yang ingin disampaikan juga tetap masuk.

Hm, meskipun aku sadar, proses untuk sampai kesitu tentu nggak mudah dan singkat seperti menghabiskan cerita dalam buku mereka. But i'm on my way to there.

Dan harapan terakhir ku pada blog ini adalah…

Aku ingin terus konsisten menulis dan terus berkembang

Iyap. Sebuah harapan yang lebih seperti pengingat untuk diri sendiri.

Menurut ku, nggak ada harapan yang bisa terwujud jika aku nggak mulai menulis dari sekarang. Dan terus menulis dengan konsisten itu adalah sebuah tantangan. Makanya sulit. Butuh proses. Dan dari proses yang panjang itu nanti akan jadi sebuah cerita. Makanya setiap cerita selalu punya keunikannya sendiri.

Apalagi kalau nanti aku mampu mengembangkan blog ini dengan menambah skill pendukung lain. Pasti akan makin terlihat perkembangannya ya.

Aah, sebuah harapan yang perubahannya hanya ada ditangan ku sendiri. Jika tak berubah, berarti aku masih belum niat. Berat wkwk.

Dan berakhirlah sudah postingan tentang 3 harapan ku untuk blog ini. Semua harapan pasti ingin diwujudkan, tapi tak semua harapan bisa terwujud tanpa doa dan usaha. Demikianlah postingan ini berakhir, sampai bertemu hari esok.

Share:

Selasa, 13 April 2021

Kenapa Menulis di Blog?




Hari kedua dari challenge BPN Ramadan 2021 mengangkat tema tentang alasan mulai ngeblog. Hm, sebelumnya aku sudah pernah menceritakan pada postingan berikut.


Baca : Helka's Blog Journey


Dan


Baca : Take a Break


Kurang lebihnya begitulah perjalanan ku bersama blog kesayangan ini hihihi. Penuh dengan drama, semangat ngeblog yang naik turun beradu dengan rasa malas yang bergejolak.


Benar kata salah seorang kawan, membuat blog itu mudah tapi konsisten untuk menulis dan membangunnya itu sulit. Ada aja cobaannya. Tapi aku selalu menemukan jalan untuk kembali. 


Yah, mungkin ini yang dinamakan jodoh. *Plakk


Apalagi di tahun 2020 kemarin. Padahal aku sudah menghadiahi blog ini fasilitas custom domain  harapannya supaya aku lebih rajin menulis, kan udah ngasih effort lebih nih ceritanya, selain itu juga supaya terlihat lebih profesional aja 


Terus aku juga lumayan rajin ikut kelas SEO, kelas menulis artikel dan apapun yang berhubungan dengan peningkatan kualitas blog. Tapi ada aja yang bikin semangat blog menurun. Dalam setahun aku hanya menghasilkan tulisan yang bisa dihitung jari. Hiks.


Dan di 2021 ini aku bersyukur sekali. Selain karena masih diberi kesempatan bertemu Ramadan, aku juga masih diberi kelonggaran waktu supaya bisa ikutan blog challenge ini dengan tema yang aku banget.


Semoga setelah event ini kebiasaan menulis ku tetap keterusan yah, jadi nggak cuma sebatas habis di satu bulan ini aja.


Jadi jika ditanya kenapa aku menulis diblog? Nggak mau gitu di Instagram, Facebook atau yang lain?


Jawabannya karena di blog aku bisa lebih leluasa mengekspresikan diri lewat tulisan dan terasa lebih personal aja. Blog ini juga kan terintegrasi dengan mesin pencari google yah, dimana orang yang benar-benar pengen tahu aja yang akan nyari sesuatu disitu. Kalo kebetulan blog kita ditemukan sama yang ingin tahu informasi tersebut kan rasanya jadi berguna banget ya apa yang kita tulis. Ada semacam rasa senang yang nggak bisa diungkapkan kalau nggak dicoba sendiri. Gitu.


Yok lah coba ngeblog, banyak kejutan yang bisa kalian rasakan kalau sudah terjun langsung ke dunia blogger. Untuk aku pribadi, sebagai blogger part time musiman aja sudah pernah merasakan manisnya cuan dari menulis blog. Masih belum dari ads sih, cuma dari lomba nulis atau paid post gitu. Maksud ku, kalian pasti ngerti kan gimana rasanya ketika duit lagi menipis atau lagi pengen sesuatu terus tiba-tiba ada transferan uang masuk (hadiah menang lomba/paid post). Ihiiiy berasa dapat uang kaget.


Lalu saat tiba-tiba ada paket datang ke rumah, padahal kamu nggak pesan apa-apa. Ternyata isinya skincare buat direview atau hadiah/merchandise dari lomba blog. Wow, penuh kejutan sekali.


Sensasi semacam itulah yang membuat ku selalu rindu akan menulis di blog. Seberapa lama apapun aku vakum, pasti selalu ada juga keinginan untuk kembali menulis. Iya.


Btw, sekian tulisan aku. Jangan kangen ya, besok kita ketemu lagi dengan tema hari ketiga. See you ;)


Oh iya, jangan lupa sharing di komen dong tentang alasan kalian nulis di blog juga. Siapa tau jadi penyemangat atau motivasi untuk satu sama lainnya. Oke?


Share:

Senin, 12 April 2021

Arti Nama Blog Helka


 

Yeay, senangnya bisa kembali ikutan challenge Ramadan menulis yang diadakan Blogger Perempuan. Alhamdulillah challenge ini selalu hadir setiap tahun saat Ramadan.


Sebelumnya di tahun 2019, aku sudah berhasil menyelesaikan 30 hari tantangan menulisnya. Lalu pada 2020, aku skip ikutan karena dunia ku yang masih jungkir-balik. Hidup ku lagi nggak stabil. Dan pada 2021, aku nggak mau melewatkan kesempatan ini lagi. Itung-itung kembali menghidupkan blog yang sudah lama tak terurus. Hiks. Aku juga semakin excited nih, karena tema menulis tahun ini lebih ke personal gitu. Aku banget dong ini hehehe.


Okey, jadi tema dihari pertama ini tentang arti nama blog.


Nama blog ku sendiri helkasari.com, simpel banget. Langsung pek-ketiplek pakai nama sendiri. No, nama pena. Tujuannya tidak lain adalah karena diblog ini aku ingin menunjukkan hal-hal yang helka banget gitu. Mungkin akan jadi semacam diary, tapi lebih bermanfaat. Jadi nggak cuma berkeluh kesah aja. Aku juga akan bercerita pengalaman, review dan beberapa tips yang semoga saja bermanfaat.


Aku ingin jika diluar sana ada yang merasakan hal sama seperti yang pernah ku alami, dia jadi nggak merasa sendirian. I know that u feel, sendirian dan kesepian itu nggak enak. Jadi meskipun kita tidak saling kenal, mari berkenalan dengan bertukar cerita. Aku sangat welcome disini.


Untuk itulah kenapa blog ini diberi nama helkasari.com, supaya kesannya lebih akrab tapi tanpa berniat sok akrab. Eh, eh, gimana tuh wkwk


Sebenarnya aku sempat kepikiran untuk punya nama pena untuk blog ini. Semacam nama samaran gitu supaya aku lebih leluasa bercerita tentang kehidupan tanpa orang sekitar ku tahu. Tapi aku jua nggak tahu apa nama samaran yang helka banget, jadi yaudah pake nama sendiri ajalah. Gamau ribet juga ujung-ujungnya wkwk


Dan ya, begitulah cerita singkat kenapa blog ini dinamakan dengan nama yang sama seperti penulisnya.


Sekian cerita ku. Semoga puasa hari pertama ini lancar yaa semuanya. Kalau kalian, apa arti dari nama blognya?


Share:

Jumat, 26 Maret 2021

Pulau Patai, Hidden Paradise of Central Kalimantan


Akhir pekan minggu lalu, aku mengunjungi salah satu wisata yang ada di Kabupaten Barito Timur, Kalimantan Tengah. Momentumnya pas banget karena bulan ini ada Hari Air Sedunia dan Hari Hutan Sedunia, aku bersyukur bisa berkunjung kesini. Waktu tempuhnya lumayan singkat -dari kota Tanjung- dan menurut testimoni memuaskan dari teman-teman yang pernah kesana, aku memutuskan menghabiskan waktu disini.

Adalah Pulau Patai. Sebenarnya nama tempat wisata ini adalah Wisata Alam Patai Suku Hawa (Pasuha), tapi karena terletak di desa Pulau Patai. Orang-orang lebih sering menyebutnya Pulau Patai.


Coba saja kalian search di google maps, nama Pulau Patai. Pasti yang muncul seperti location unknown, tempat yang tak terjamah, jauh dari kota dan nggak ada jalan buat kesana. Aku juga pertama kali tahu sempat berpikir, "kok bisa ya orang-orang nemu jalannya?"


Setelah ditelusuri, ternyata aku yang salah ketik kata kunci. Hahaha. Harusnya pakai kata kunci Wisata Alam Pasuha dan tadaaaa you find way to there.


Baca juga : Ngabuburit di Taman Bunga Poska


Sebelumnya juga tak banyak yang tahu kalau tempat wisata ini sudah buka dari tahun lalu, tapi karena bertepatan dengan masuknya pandemi di Indonesia membuat mobilitas pengunjung minim. Apalagi sempat diterapkannya lockdown. Beruntung sekarang, meskipun perlahan, kita sudah mulai bisa beraktivitas diluar lagi meskipun tetap harus menerapkan prokes.


But it's okay, demi kebaikan bersama.


Bermodal google maps sebagai navigator, kami pun menuju Pasar Tamiyang Layang sebagai titik temu pertama. Kemudian menuju Desa Serapat, disini google maps mulai ngaco seiring dengan jaringan yang mulai hilang-hilangan. Kami kehilangan arah.


Menurut ku, disinilah seninya melakukan perjalanan. Ketika kamu kehilangan arah ditempat yang belum pernah dikunjungi, disitu mau nggak mau kita dipaksa untuk keluar dari zonanya kita. Kita yang sebelumnya pemalu atau sehari-harinya lebih banyak diam, mau nggak mau harus berani bertanya pada warga setempat. Orang yang nggak kita kenal.


Sebagai overthinker, tentu saja banyak hal yang berseliweran di kepala ku. Tapi rasa untuk menemukan 'jalan yang benar' lebih besar dari sekadar menuruti jalan pikiran. Ternyata kami lepas dari rute seharusnya, tapi berkat clue dari warga kami menemukan jalan yang benar lagi menuju Desa Pulau Patai. Maklum, jalannya masih belum ada papan nama.


Dari belokan tersebut, kami hanya perlu terus berjalan lurus. "Desanya paling ujung," kata salah satu warga. Aku mulai overthiniking kembali.


Setelah kurang lebih 15 menit, kami pun sampai di ujung jalan beraspal. Tepat di depan kami ada jembatan kayu dengan titian yang cukup panjang, diatasnya bertuliskan ‘Wisata Alam Pasuha’.


BINGO!





Tidak butuh waktu lama kami pun parkir dan mengeksplor jembatan dengan titian kayu tersebut. Rutenya cukup panjang, menjorok ke dalam memasuki kawasan hutan. Sesekali di sampingnya ada gazebo untuk bersantai. Tapi sangat disayangkan infrastrukturnya sudah mulai rapuh karena terbuat dari kayu seadanya. Mungkin karena tempat wisata ini berjalan hanya dari warga sekitar dan tidak ada peran pemerintah daerah untuk lebih mengembangkan tempat ini.


Setelah puas mengeksplor, kami pun menuju icon Pulau Patai tersebut menggunakan perahu yang disewa dari warga, cukup membayar 25 ribu per orang. Jumlah ini untuk penumpang maksimal 6 orang. Jika kurang dari itu maka kalian harus mengeluarkan budget lebih.



Baca juga : Liburan ke Nateh


Wisata menyusuri sungai pun dimulai.









Melewati sungai yang disekelilingnya masih dipenuhi rimbunnya hutan membuat ku  merasa seperti di Kalimantan banget. Yah, seperti yang kalian tahu, hutan Kalimantan saat ini sudah banyak berkurang. Dan aku bersyukur salah satunya masih tersisa tempat ini dengan akses yang mudah dijangkau pula. Kalian harus coba merasakan sensasinya.


Tadinya ku pikir setelah keluar dari hutan kita akan langsung sampai di Pulau, eh ternyata masih terus berjalan lagi. Tepatnya melewati sebuah kawasan rawa yang sangat luas. Di tengahnya terdapat kerbau rawa dan kandangnya. Sesekali kalian akan berjumpa dengan para pemancing. Ya, kawasan ini sudah terkenal lebih dulu dikalangan para pemancing lokal.


Tapi sempat terlintas dalam pikiran ku ketika berada disini, bagaimana jika didalam rawa ini ada anaconda?


Jika kalian pernah menonton film Anaconda yang berlatar di Pulau Kalimantan, maka saat berada disini, kalian akan memikirkan hal yang sama.


But ya, itu hanya sepintas overthinking ku saja. Selebihnya tempat ini menakjubkan.








Dan kalian akan bertambah kagum lagi ketika sampai di pulaunya. Sebuah dataran luas dengan pohon yang aesthetic. Masuk ke dalam lagi, kalian akan menemukan savana luas. Menurut ku damagenya seperti di afrika, hm, atau baluran mungkin. Eh.


Oke, pemikiran ku terlalu berlebihan.


Tapi aku sangat merekomendasikan tempat ini untuk dikunjungi. Selain karena budgetnya pas dikantong dan aksesnya mudah, sensasi yang ditawarkan dari pemandangan disini lebih dari sepadan.


Oh iya, jika kalian akan kesini saran ku, bawa beberapa cemilan atau minuman sendiri karena masih belum banyak yang berjualan dan jangan lupa bawa kembali sampah kalian.


JANGAN DITINGGALKAN DISINI !


Aku cukup kecewa karena saat berada di pulau aesthetic, masih ada sampah botol air mineral disana. Hei, itu sangat tidak bertanggung jawab!


Sekian cerita dari perjalanan singkat ku di akhir pekan. Kalau akhir pekan kalian bagaimana? Adakah tempat menakjubkan atau worth it untuk melepas penat yang aksesnya mudah dan dekat dengan lokasi kalian? Mari bercerita di kolom komen yaaa..


Share:

Sabtu, 13 Maret 2021

Take a Break




Akhirnya menulis lagi setelah menghilang sekian lama. Terakhir kali menulis hanya untuk kebutuhan komunitas setelah itu lost. Aku tidak punya ide sama sekali.


Lebih tepatnya, jiwa perfeksionis ku sedang menggebu-gebu. Apalagi setelah mengikuti beberapa kelas SEO dan personal branding dari profesional, disitu aku mulai menetapkan ekspektasi tinggi untuk blog ini.


"Pokoknya aku harus membenahi blog ini dulu sebelum mulai menulis, supaya optimasi SEO pada blog ku bisa maksimal."


Setelah terjun untuk berbenah, aku bingung harus mulai darimana. Aku nggak ngerti. Akhirnya aku coba bertanya sama beberapa 'suhu' di komunitas blogger. Hasilnya cukup banyak koreksi. Sehingga muncul pemikiran ini, "Aku nggak punya banyak waktu buat berbenah sebanyak ini, kayaknya emang harus ngambil cuti kerja biar fokus."


Finally, setelah cuti aku malah berleha-leha mengerjakan yang lain. Diluar rencana. Begitu cuti selesai, blog ku tidak mengalami perubahan.


Poin yang bisa aku pelajari disini adalah untuk berhenti menyalahkan waktu.


Baca juga : Happy Twe(e)nty Two!


Semuanya pun berlalu seperti biasa tanpa perkembangan berarti, nggak sengaja hari itu aku melihat begitu banyak lomba blog berseliweran di timeline instagram. Aku ingin ikut, tapi sadar diri dengan keadaan blog ku sekarang. Aku menahan diri lagi dan satu peluang tertutup.


Ya, aku hanya merasa tulisan yang terlalu informatif tidak cocok untuk ku. Aku lebih nyaman menulis cerita keseharian dan hal-hal yang dekat dengan ku.


Waktu kembali berjalan, terus berjalan dan aku masih tidak menghasilkan apa-apa. Sampai suatu ketika, salah satu anggota komunitas blogger mengadakan sesi sharing. Aku mengeluarkan uneg-uneg ku, "bisa nggak sih kita bikin tulisan yang personal tentang keseharian kita tapi tetap memberi manfaat? Maksud ku, siapa yang mau baca cerita kesehariannya kita yang bukan siapa-siapa ini?"


Celetukan ku itu langsung dijawab salah seorang blogger seperti ini, "bisa, contohnya tulisan ku saat ingin mencairkan dana bpjs ketenagakerjaan kemarin pv nya mencapai angka tertinggi."


Salah satu yang lainnya berucap, "tetap bisa, bahkan banyak kok blogger yang sukses jadi penulis berkat tulisan personalnya di blog seperti Raditya Dika, Gita Savitri, dll."


Aku tercenung, benar juga ya. Penulis sekelas Raditya Dika pun dulu awalnya menulis dari blog. Aku bersemangat lagi, namun saat akan mulai menulis tentang segala keresahan ku, baru 2 paragraf, aku terdiam. Aku berpikir, apakah ini layak dibaca orang? Bukankah ini akan menjadi rekam jejak? Bagaimana jika suatu saat nanti tulisan ku ini menjadi masalah? Aku dihujat? Lalu bagaimana jika ada rekan ku yang membaca? Apakah tulisan ku ini bisa dimengerti? Aku seperti tidak menemukan rasa dalam tulisan ku, tidak seperti punya rekan blogger ku yang lain? Kenapa pikiran ku bisa sampai sejauh ini? KENAPAA?!?!?!!!


Oh tidak, aku mulai overthinking. Dan akhirnya tulisan yang baru 2 paragraf itu tidak pernah selesai.


Lalu suatu waktu, saat aku melihat foto-foto lama. Bernostalgia. Ternyata sudah banyak cerita yang ku lalui dan aku berucap pada partner ku, "aku pengen banget seenggaknya dalam hidup bisa punya satu buku karya ku sendiri."


"Isinya tentang apa?"


"Kisah hidup ku."


"Emang kamu udah berhasil mencapai apa sampai kamu layak jadi inspirasi?"


"Kan aku pengen bikin buku, bukan jadi inspirasi."


"Memangnya apa tujuan orang membaca buku kalau bukan untuk mendapat inspirasi atau pandangan hidup?"


Aku terdiam. Bener juga.


"Nggak usah terlalu dipikirin, nggak ada yang salah sama impian mu. Kamu cuma harus realistis, nggak ada langkah besar yang nggak dimulai dari hal kecil."


Ucapan yang menyadarkan sekaligus menghibur ku.


Dan disinilah aku sekarang, menulis tulisan ini sebagai pengingat jika nanti aku malas menulis lagi dan juga sedang berproses dalam menemukan gaya tulisan yang tetap informatif tapi tetap ada 'aku' disitu.


Harapan ku sederhana semoga aku bisa istiqomah menulis. Tulisan apapun itu, hajar aja. Jangan kebanyakan mikir!

***


Kalian, apa pernah mengalami hal yang sama dengan ku? Mari sharing di komentar ;)


Share:

Minggu, 14 Februari 2021

Happy Twe(e)nty Two


 

"Rasanya spesial jika ada yang mengingat hari ulang tahun mu tanpa kamu memberi tahunya."


Rabu, 10 Februari 2021.


Tulisan spesial edisi berkurangnya jatah usia hidup. Yeay, welcome to the 22 years old club !!


Sebenarnya aku ingin mendedikasikan tulisan ini untuk orang-orang yang nggak pernah absen memberi ucapan, doa dan harapan di setiap berkurangnya jatah usia ku. Setiap tahunnya.


Apalagi yang pernah bela-belain buat ngasih kado, surprise dan hal bersifat materiil lain. Meskipun selama hidup, bisa dihitung jari ada yang mau direpotin gitu sama aku wkwk


*Uhukk ini aku lagi ngomongin ukhti ukhti ku yang ngasih surprise di usia 21 kemaren hihihi. Ur unforgettable ukh❤️*


Meskipun kadang respon ku suka datar, biasa aja, bahkan terkesan kayak nggak menghargai. Percayalah, aku cuma speechless dan bingung harus gimana karena ini kayak pertama kali gitu loh buat aku dan aku sampai mikir "aku kan nggak pernah segitu banget effortnya sama mereka, tapi mereka sebaik ini sama aku. Aku terharu sekaliiii…. :')"


Untuk itulah aku selalu ingat siapa aja orangnya dan aku sayang kalian, semoga hal-hal baik juga turut menyertai kalian ya🤗🤗


Ditarik mundur lagi, aku juga punya squad yang dimana pas sama mereka aku bisa jadi diri ku sendiri. Helka yang seutuhnya. *Apaansi wkwk pokoknya tengkyu sudah jadi teman seperjonesan❤️


And for the special one, teman bertukar pikiran dan mungkin akan sering muncul di blog ini. Enaknya disebut partner aja yah, biar kesannya ngga bucin hahaha. Dia yang selama 5 tahun terakhir ini nemenin setiap pergantian usia dengan special gift yang nggak pernah aku sangka. Big thanks❤️ btw kenapa kita nggak kenal dari dulu banget yak biar koleksi kado ku banyak hahaha


And for my beloved family, my best gift dari Allah. Nothing word can describe them❤️


Aku inget banget, dulu pernah dikasih kado buku diary sama sepupu yang menjadi cikal bakal kesukaan ku dalam dunia menulis. Meskipun isi diary itu semuanya tentang keseharian, hal-hal aib, alay dan pemikiran absurd ku. Aku seneng banget, pas ada sepupu ku yang lain nggak sengaja baca tulisan ku tentang hari valentine. Dia langsung nanya, "ini kamu nyalin tulisan darimana?"


"Itu tulisan ku."


Dahinya mengernyit. "Masa iya?"


"Beneran."


Wajar aja sih nggak dipercaya orang masih bocil kelas 3 SD, mustahil bisa melahirkan pemikiran se-absurd itu. Hahaha.


Ya, begitulah birthday story ku setiap tahun. Dari yang dulunya excited banget, sekarang jadi biasa aja. Gimana ya, rasanya aku udah nggak berekspektasi lagi untuk dikasih surprise atau kado gitu, tapi kalo ada yang mau tetep kasih kado monggo.. ku terima dengan senang hati *plakk maunya lu hel.


Akhirnya berdasarkan renungan panjang selama 22 tahun ini, aku menarik kesimpulan bahwa setiap hari adalah kejutan meskipun berbalut rutinitas. Ya, kita mana tau apa yang terjadi kan. Susah. Senang. Kadonya adalah ketika kita mampu mengambil hikmah dari kejadian yang dialami untuk bekal ke depan nanti. Sesimpel itu.


***


Kalau kalian, ada cerita menarik apa di momen pergantian usia? Mari saling bercerita di kolom komen😉

Share: