Review The World at My 17, Webdrama Adaptasi Webtoon Girl’s World

 


Siapa yang sudah baca webtoon Girl’s World episode 205? Aaaa melting parah!! Akhirnya Oh Nari ngerasain juga dicintai secara ugal-ugalan sama cowok bucin. Sungguh perjalanan panjang bagi Oh Nari sampai ke titik ini.


Aku suka banget sama perkembangan karakter semua pemainnya. Mulai dari Nari yang awalnya insecure sekarang jadi percaya diri. Terus Mirae dan Sunji yang ikhlas memberi ruang untuk cowok lain agar Nari bahagia (nggak tahu ya, kalau Yoona hihihi). Pokoknya semua karakter sudah jauh lebih baik dari sebelumnya.


*(mohon dimaafkeun juga untuk fotonya karena kurang sesuai huhuhu)


Belakangan aku baru tahu kalau ternyata webtoon ini hits, bahkan di kalangan emak-emak. Mulanya karena aku share blogpost review webtoon ini di instagram, ternyata banyak yang komen. Semakin lah aku excited pengen membahas seputar tetek-bengek Girl's World.


Eh, bukan webtoonnya lagi deng, webdrama. Aku penasaran, gara-gara ada yang komen di webtoon kalau ternyata webtoon ini sudah diangkat ke versi webdrama. Sudah ada dua season. Wow, kemana saja aku.


Aku pun langsung menonton kedua seasonnya. Kamu juga bisa menontonnya loh, di youtube sudah tersedia.

Review Webdrama The World At My 17 Season 1

Tersedia dalam 12 episode berdurasi sekitar 13-17 menit per episodenya, tentu nggak banyak yang bisa diharapkan. Menurunkan ekspektasi kita salah satu cara terbaik untuk menikmati webdrama ini. Meskipun tetap sih kurang sreg juga. Huhu. Kalian tonton sendiri deh, atau kalau nggak punya banyak waktu bisa baca tulisan ini sampai selesai.

Nggak Ada Geobukdang Bakery

Cukup kecewa sih, mengingat banyaknya adegan yang terjadi di Geobukdang Bakery ini. Selain sebagai roda penggerak perekonomian keluarga Oh Nari, Toko Roti Geobukdang memiliki ceritanya sendiri. Mulai dari tempat nongkrong empat sekawan kalau lagi diluar sekolah sampai tempat biasa Yang Mijung bertemu Nari. Jadi menurut ku kayak sayang banget nggak dimunculkan.

Sunji dan Nari Nggak Sekelas

Ini yang agak aneh menurut ku, Sunji dan Nari nggak sekelas. Nari malah sekelas, bahkan sebangku sama cowok fake yang sebenarnya suka sama Yoona tapi malah ngedeketin Nari. Ingat nggak?


Kayak aneh banget. Aku nggak bisa terima ini. Padahal di webtoon Sunji yang pendiam terus bisa gabung sama empat sekawan kan karena Nari. 

Karakter Nari dan Sunji yang Seperti Tertukar

Akting pemainnya sih, bagus-bagus aja. Masih enak ditonton. Tapi karakter Nari disini insecure parah. Di webtoon juga insecure, tapi dia masih berani speak up. Nggak yang iya iya aja. Kalau di webdrama ini menurut ku si Nari diem diem bae. Nggak seberani dan banyak omong kayak di webtoon.

Karakter yang banyak omong malah Sunji, padahal kan Sunji pendiam. Tipe-tipe pendiam yang sekali ngomong langsung memecah suasana.

Perpindahan Alur Cerita yang Kurang Mulus

Dari konflik ke penyelesaiannya cepat banget selesai, kayak dipaksakan harus selesai aja gitu. Terus pindah ke konflik selanjutnya pun langsung pindah aja, masih terasa plot holenya. Kerasa banget kalau cuma adegan tertentu aja yang diambil buat dimasukkan ke webdrama.

Jung Wookyung dan Seo Mirae pacaran

Perbedaan dari webtoon yang bisa ku maafkan cuma ini. Hahaha. Soalnya di webtoon mereka cuma sampai suka-sukaan aja. Nggak sampai jadian. Di webdrama aku bisa dengan puas melihat keuwuan mereka hehehe.


Lucunya disini Mirae dan Wookyung satu sekolah. Mirae pun seorang trainee dan Wookyung sudah jadi idol. Untuk visual Mirae dan Wookyung sudah cocok banget.


Begitulah review sekaligus spoiler dari webdrama The World at My 17. Overall, yang paling sesuai kayak di webtoon cuma Yoona. Baik dari segi karakter maupun visualnya. Jadi udah no comment deh, buat Yoona. Selalu keren pokoknya.

Review The World At My 17 Season 2

Webdrama My World at 17 season 2 sudah rilis sejak akhir tahun 2021 lalu, oleh karena itu aku bisa langsung menonton begitu yang season 1 selesai. Dengan 10 episode dan durasi lebih panjang sekitar 17-29 menit per episodenya, aku jauh lebih puas dengan season 2 ini.


Nggak banyak yang bisa aku highlight karena alur ceritanya sudah jauh lebih mirip dengan di webtoon. Hanya saja oleh karena saat webdrama ini tayang, webtoonnya juga belum selesai. Jadi jangan kesal kalau endingnya menggantung. Ups.

Pemeran Nari dan Sunji diganti

Jujur aku lebih suka dengan pemeran Nari dan Sunji di season 2. Menurut ku yang jadi Nari dan Sunji sudah cukup sesuai dengan yang di webtoon. Nari yang biasa saja tapi cantik cute gitu dan Sunji yang cantik tapi polos. Sesuai porsinya.

Latar Tempat Sudah Disesuaikan Seperti di Webtoon

Horayy, Toko Roti Geobukdang sudah ada disini. Meskipun keluarga Nari nggak dimunculkan tapi keberadaan toko roti ini juga sudah cukup untuk melengkapi cerita ini. 

Im Yoona Nggak Ke Amerika

Nggak ada scene Yoona ke Amerika. Di webdrama ini, yoona masih satu sekolah dengan mereka. Hanya saja berbeda kelas dan gedung. Meskipun nggak ke Amerika, keberadaan yoona disini tetap sedikit. Jadi nggak mengurangi esensi yang ada di webtoon.

Berharap Diangkat ke Drama Series

Begitulah gambaran keseluruhan dari yang bisa aku nikmati dari webdrama ini. Buat yang tertarik ingin menonton bisa langsung cari di YouTube ya, ada semua kok.


Akhir kata, berhubung cerita di webtoonnya sudah terlihat happy ending. Semoga webtoon ini bisa digarap lagi dengan lebih serius. Maksud ku, dibikin drama series 16 episode kayak True Beauty. Soalnya pesan yang disampaikan webtoon ini sudah bagus, tapi versi dramanya masih kurang mengena.


Tapi aku nggak bisa berharap banyak juga sih, yang penting setiap malam jum’at Girl’s World tayang di webtoon. Menyala koin kuuuu.


Kalau kamu yang sudah menonton, bagaimana pendapat kamu? Cerita di kolom komentar ya!

Hanan is Turning One

 


Tepat tanggal 23 Juni tadi, Hanan menginjak usia 1 tahun. Nggak berasa banget. Rasanya baru kemarin cerita momen lahiran anak pertama, sekarang cerita tentang momen tumbuh kembangnya selama satu tahun. Hidup memang sesingkat itu.


Selama satu tahun ini ada banyak sekali cerita yang sudah kami lalui. Senang, sedih, galau, bingung, yaampun kalau diingat jadi terharu. Ternyata bisa ya aku melewati ini semua. Supaya semakin manis untuk dikenang, aku akan menuliskannya disini.

Milestone Hanan

Selama enam bulan pertama, aku sedikit lupa apa saja tumbuh kembang yang terjadi. Salah sendiri sih, kenapa baru nulis beginian dirapel pas usia satu tahun. Banyak lupa, kan.


Jadi Hanan anak ASI full dbf selama enam bulan. Hanan setiap imunisasi selalu di puskesmas. Waktu imunisasi DPT pasti demam dan mogok nen. Aku sempat stres kalau Hanan menolak nen, tapi suami selalu menyemangati dan bilang untuk nggak menyerah. Akhirnya drama mogok nen hanya berlangsung sekitar 2-3 hari.


Seingat ku di usia 3 bulan Hanan sudah bisa mengangkat kepala dan tengkurap sendiri sesekali, ini berkat rutin latihan tummy time. Baru dari usia 4 bulan, Hanan aktif tengkurap sendiri.


Hanan mulai MPASI tepat di usia 6 bulan. Menu pertamanya, bubur saring nasi telur. Tentu saja nggak langsung lahap, lebih banyak dilepeh malah. Tapi nggak apa, namanya juga baru belajar. 


Selama 4 hari drama lepeh ini terus berlanjut dan baru di hari ke-5 Hanan mulai makan dengan lahap, meskipun hanya menghabiskan setengah porsinya. Cerita drama MPASI ini sudah pernah ku ceritakan disini.


Aku mengira drama GTM MPASI ini hanya berlangsung di awal belajar makan, nggak taunya sepanjang usia Hanan menuju 1 tahun. Drama GTM itu terus berlanjut, sesuai fase kenaikan tekstur. 


GTM paling parah dan membuat ku stres di usia 8 bulan sampai 10 bulan. Kesalahan ku sih, yang kurang melatih oromotornya sejak usia 6 bulan. Tapi masih belum terlambat untuk melatih oromotor.


Melatih oromotor bayi juga nggak berjalan mulus. Selalu ada saja tingkah bayi yang bikin greget. Misalnya biji mangga yang seharusnya diemut, sama Hanan malah dimainin ke lantai. Aku bantu pegangin, anaknya malah marah dan ngambek nggak mau ngemut lagi. Benar-benar deh.


Sekarang Hanan sudah makan sesuai menu keluarga. Masih disuapi. Kadang bisa kok dibiarkan makan sendiri, tapi kalau suasana hati ku sedang baik untuk ekstra beberes. Wkwkwk.


Aku lupa Hanan merangkak di usia berapa, yang pasti sampai saat ini gaya merangkaknya modelan dada nempel ke lantai. Bisa saja sih, dia pakai gaya merangkak pada umumnya, tapi pergerakannya lebih lambat. Beda hal kalau yang dada nempel ke lantai, aku pun terengah-engah kadang mengejar Hanan. Hihihi.


Sampai usia 1 tahun, Hanan masih belum bisa berjalan. Ia lagi sibuk belajar berdiri dengan merambat pada sesuatu yang kokoh.


Oh iya, Hanan tumbuh gigi pertama di usia enam bulan. Tepat saat akan memulai MPASI. Kalau kata ayahnya, Hanan ini disiplin, selalu sesuai timeline. Melahirkan Hanan saja tanggalnya sesuai HPL.

Ketika Hanan Sakit.

Sepanjang satu tahun perjalanan, Hanan sudah beberapa kali sakit. Nggak sering juga. Biasanya sakit demam setelah imunisasi dan tumbuh gigi.


Namun saat usia 11 bulan tadi, Hanan batuk pilek. Tepatnya pertengahan Mei tadi, Hanan tertular bapil dari orang lain. Aku sempat stres sebab baru pertama kali menghadapi Hanan yang sakit diluar demam. Separah-parahnya demam, paling cuma mogok nen. Lah ini, rewel dan mogok segalanya

Nggak mau makan, minum, nen apalagi. Hanan ini tipe bayi yang harus banget rebahan kalo nen. Prinsipnya nggak rebahan, nggak nen. Tapi gimana mau nen kalau hidungnya aja mampet pas rebahan. Rewelnya nggak ketulungan.


Saat itu Hanan benar-benar nggak mau sama siapapun, sama Ayahnya pun nggak mau. Maunya nempel aja sama aku. Aku mau mandi aja ditangisin. Awalnya senang sih jadi one and only-nya Hanan, tapi lama-lama pusing juga mendengar tangisan bayi tepat di telinga.


Pernah satu waktu, Hanan terbangun tengah malam. Mana Ayahnya sedang bekerja shift malam. Hanan langsung menangis, aku pun langsung bangun dalam keadaan setengah sadar. Nangisnya nggak berhenti. Aku pukung (diayun ala orang banjar) pun Hanan masih tetap menangis. Bayangin stresnya gimana. Mana kurang tidur, sendirian di rumah, tengah malam pula.


Karena bingung mau ngapain lagi, aku videocall ayahnya. Perhatian Hanan teralihkan, tangisnya pun mereda, kemudian berangsur tenang dan tertidur. Memang selama sakit, tidur Hanan nggak nyenyak. Satu malam itu pasti ada 2-3 kali terbangun.


Tapi ada satu momen yang bikin melting, sebab Hanan maunya nempel sama aku terus. Jadilah aku pangku sambil aku tetap sibuk menyiapkan lauk makan. Eh ternyata Hanan ketiduran dong, padahal cuma dipangku yang posisinya kayak memeluk. 


Huhu, ternyata Hanan juga ngantuk sekali karena kurang tidur. Sama kayak aku. Tapi tubuhnya nggak enak dan yang bikin dia nyaman ya pelukan emaknya.


Benar-benar momen Hanan sakit yang nggak terlupakan, sekaligus memberi banyak pelajaran.


Batuk pilek sebenarnya sakit yang biasa aja bagi orang dewasa tapi nggak bagi bayi. Segala macam ikhtiar kami lakukan saat itu supaya Hanan lekas sembuh. Mulai dari dipijat, beli nasal spray, nebulizer 2x dan terapi sinar (ini alternatif berjemur dibawah sinar matahari, karena saat Hanan sakit cuacanya sering hujan dan mendung, agak sulit untuk berjemur).


Sampai akhirnya berobat ke puskesmas, karena demamnya datang lagi. Dan qadarullah, setelah minum obat, batuk pilek Hanan berangsur pulih.

Hanan Setelah Satu Tahun

Satu tahun Hanan hidup di dunia, tumbuh kembang Hanan sudah semakin bertambah. Hanan semakin aktif mengeksplor sana-sini. Apalagi sekarang lagi keranjingan belajar berdiri.


Durasi nennya juga berkurang, nggak selama dulu. Seiring dengan banyaknya kegiatan dan yang mengalihkan perhatian Hanan. Jujur aku sebenarnya senang sekaligus sedih. Senang karena sedikit lebih leluasa dalam beraktivitas sendiri, tapi juga sedih momen menyusui kami durasinya berkurang.


Melihat wajah Hanan saat menyusui membuat ku merasa dicintai dan dibutuhkan. Benar ya, menyusui itu nggak hanya proses memberi ASI. Tapi juga ada bonding yang intimate-nya nggak bisa ku deskripsikan. Rasanya kami bisa saling terkoneksi satu sama lain hanya dengan tatap-tatapan.


Ah, punya anak memang setiap harinya seperti penuh petualangan dan kejutan. Ada aja yang nggak terduga. Aku akan menikmati momen-momen ini sebelum kelak Hanan lebih sibuk dengan teman dan dunianya sendiri.

Review Buku Blogging For Moms by Novarty, Cerita Konsisten Ibu Ngeblog

 


Menjadi mom blogger adalah salah satu cara Ibu agar tetap berdaya. Iming-iming memiliki penghasilan dari profesi blogger menjadi angin segar bagi Ibu Rumah Tangga. Terutama yang hobi menulis. Namun apakah hanya dengan menjadi mom blogger, penghasilan itu bisa datang dengan sendirinya?


Buku Blogging For Moms hadir sebagai panduan memulai blog sampai bisa menghasilkan, juga cerita lika-liku seorang mom blogger dalam mengelola blognya. Nah, seperti apa detail isinya? Simak sampai selesai, ya.

Deskripsi Singkat Buku Blogging For Moms

Judul Buku: Blogging For Moms

Penulis: Novarty

Cover: Softcover

Penerbit: Stiletto Book

Cetakan : ke-1 Januari, 2024

Jumlah halaman: vii + 203 halaman

ISBN: 978-623-409-354-4

Kategori: Non Fiksi + Pengembangan Diri


Mom Blogger memiliki keunikan tersendiri. Kehidupan ibu yang istimewa, berhasil melahirkan sudut pandang yang berbeda. Menjadi mom blogger bukan hanya membuat diri ibu lebih produktif dan berkembang, namun banyak brand yang mengajak kerja sama, juga akan membuka peluang penghasilan.


Buku Blogging For Moms berisi panduan untuk memulai menjadi mom blogger, mengelola blog hingg dilirik brand, hingga personal branding. Sangat mudah diikuti, jelas, dikemas sederhana dan sesuai realita dunia blogging saat ini.

Review Buku Blogging For Moms

Buku ini menjawab keresahan dan kebingungan pemula dalam memulai blogging. Nggak heran kenapa isinya relate, sebab ditulis langsung berdasarkan pengalaman penulisnya. Novarty, ibu rumah tangga yang sudah menekuni blogging selama lebih dari 5 tahun.


"Kamu bukan berhenti kerja, tapi hanya pindah lokasi kerja."


Pembahasan di bukunya juga lengkap. Mulai dari kenapa harus jadi mom blogger, cara praktis membuat dan mengisi blog, sampai bagaimana cara blog tersebut bisa menghasilkan. Tuntas dibahas semua di buku ini.


Yang paling aku suka, ada kolom do and don’t nya. Kolom do, memungkinkan kamu untuk mempraktikkan langsung isi dari buku ini. Sedangkan don’t meng-highlight apa yang nggak boleh kamu lakukan dalam blogging.


Selain itu langkah-langkah dalam memulai bloggingnya juga runut dan jelas. Dilengkapi dengan gambar dan tabel, yang memudahkan kamu untuk memahami pembahasan didalamnya.


"Terkadang kita overthinking duluan sebelum memulai hal baru. Lebih cenderung memikirkan kesulitannya alih-alih mengambil langkah awal. Padahal semua kesulitan itu belum tentu terjadi."


Buku ini sudah kayak guide yang memandu pemula dalam mempelajari dunia blogging. Namun bagi ku, buku ini seperti teman yang mengerti kegalauan ku ketika down dalam mengelola blog. Makanya aku suka baca-baca lagi buku ini untuk memantik semangat. Tapi karena keseringan dibuka, cover bukunya jadi agak lecek. Huhuhu.


Overall, buku ini aku rekomendasikan sekali untuk para Moms yang mau belajar blogging dan yang masih struggle dengan blog. Mau sungkem deh, sama Kak Novarty yang sudah mencurahkan waktunya untuk menulis buku ini. 


Ditambah lagi ada bab yang khusus membahas tentang tantangan seorang Ibu dalam blogging. Semuanya sudah pernah ku alami. Huhuhu, berasa nggak sendirian lagi nggak, tuh. Ternyata segala kendala yang aku alami, juga dirasakan oleh Ibu lain.


"Overthinking will killing you."

 

Tentang rate card juga dibahas disini. Rate card penting loh, bagi seorang blogger dan pekerja kreatif lainnya. Dulu aku pernah ditanya rate card dari klien, tapi karena belum punya, aku jawab samain aja sama blogger lain. Terus dikasih nominal yang menurut ku masih lumayan banget buat jajan.


Kesannya nggak profesional banget yak. Dulu masih pemula nggak paham aku tu sama yang beginian. Makanya beruntung sekarang sudah ada buku Blogging For Moms.


"Penting untuk me-manage ekspektasi dan meredam ambisi."


Buat yang tertarik pengen punya juga, kamu bisa hubungi dm Instagram Kak Novarty ya di @novarty_. Aku beli langsung dari beliau pas awal open PO pertama dengan harga Rp. 78.000,-.


Sekian dulu review buku Blogging For Moms, semoga ada manfaat yang bisa diambil.


"Pokoknya pilihannya hanya dua, terpaksa atau tidak menulis sama sekali."