Jumat, 31 Januari 2020

Resensi Buku Jika Kita Tak Pernah Jadi Apa-apa

(dok. pribadi) 

Judul Buku : Jika Kita Tak Pernah Jadi Apa-apa
Penulis : Alvi Syahrin
Penerbit : Gagas Media
Tahun terbit : 2019
Kota Terbit : Jakarta Selatan
Ukuran Buku : 13 x 19 cm
Jumlah Halaman : xii + 236 halaman

Sedikit cerita sebelum mulai meresensi, jadi proses aku mendapatkan buku ini penuh drama sekali. Waktu itu aku lagi penasaran tentang buku Jika Kita Tak Pernah Jatuh Cinta sampai stalk ke akun instagram penulisnya. Ternyata beberapa hari yang lalu, penulisnya baru aja tutup PO buku Jika Kita Tak Pernah Jadi Apa-apa.

Buku yang satunya aja belum terbeli, malah muncul lagi satu. Aku langsung baca baca dong sinopsis buku yang satunya, dan langsung jatuh cinta begitu baca sinopsis, relate kali sama apa yang aku hadapi beberapa hari terakhir ini.

Kecewanya, aku harus menunggu sedikit lebih lama sebelum bisa menikmati isi buku ini secara utuh dan juga ngga dapat TTD Eksklusif dari bang Alvi Syahrin huhu.

Aku berpasrah buat nunggu sampai ke gramedia dikotaku. Lalu, beberapa hari kemudian semesta berkata lain. Bang Alvi mengumumkan di instagram kalau dia masih menyimpan beberapa buku sisa PO kemarin, rencananya mereka langsung yang akan packing dan mengirimkan buku buku tersebut kepada para pembaca. Paket yang akan didapatkan pun sama seperti saat PO. Bertanda tangan dan ada merchandise eksklusifnya pula. Wow.

Aku excited dan langsung ingin checkout, tapi lagi lagi sudah sold out. Arghhh… gercep kali pembaca mu ini bang.

Wajar aja sih, wong aku mau checkout 2 jam setelah pengumumannya. Aku berpasrah lagi.


Esoknya, muncul lagi story yang mengabarkan masih ada stok hit n run dari pembeli sebelumnya. Tak perlu pikir panjang, aku langsung checkout dan bayar biar dramanya gak tambah panjang lagi. Baru setelah status pengemasan jadi pengiriman, aku bisa berlega hati. Fiuh… alhamdulillah masih berjodoh.

starter pack PO. (dok. pribadi)



akhirnyaa.. aku dapat buku ber-TTD (dok. pribadi)



Selain buku JKTPJAA, aku juga memesan buku What's So Wrong About Your Life-nya Bang Ardhi. Satu paket lengkap untuk memanduku mengarungi kehidupan. Kapan kapan akan aku resensi juga buku tersebut.

Oke, mari kita lanjut membahas tentang apa isi buku JKTPJAA.

Buku ini berisi tentang kegelisahan terhadap masa depan. Dimana realita kehidupan dimulai. Mulai dari lulus SMA, sibuk mempersiapkan diri untuk lanjut ke perguruan tinggi negeri favorit, ada yang berhasil, ada yang tidak. Terjebak gap year. Lalu kehidupan masa kuliah. Tekanan orang tua dan standar kehidupan dari orang-orang pada umumnya. Masa pengangguran. Cari kerja. Mulai bekerja. Bosan dan lelah dengan problematika pekerjaan. Ingin resign. Ingin berwirausaha. Hingga keinginan untuk menikah ketika sudah lelah sekali dengan apapun yang dihadapi. Semuanya dibahas disini.

Buku ini ngga terkesan menggurui, apalagi sok tau. Ia hanya seperti teman yang menceritakan kisahnya sendiri melewati masa-masa itu. Kamu akan merasa ngga sendirian lagi. Sebab bukan hanya perahumu saja yang terombang-ambing di samudera kehidupan penuh ketidakpastian ini. Tapi mereka juga. Sikap dan cara pandang saja yang membuatnya berbeda.

"Namun, selalu ada cerita yang tak pernah diungkapkan secara utuh. Cerita yang dia sendiri tidak minati; yang dia ingin kubur dalam-dalam. Sekali lagi, kita hanya lihat indahnya." (Hal. 184).

Ada pula tentang kita yang selalu menuntut ini itu agar semua dapat berjalan sempurna, lancar, sesuai harapan, sesuai ekspektasi, padahal kita sendiri masih berada didunia. Tempatnya segala ketidaksempurnaan.

Hingga yang paling menohokku, buku ini juga mengingatkan kita pada kematian. Tentang betapa tidak berartinya semua perjuangan dan waktu yang dihabiskan demi mengejar duniawi itu ketika kita sudah berhadapan dengan kematian.

Jangan pula setelah mengetahui fakta paling pasti tersebut kita jadi diam saja tak melakukan apapun. Justru dari semua proses dalam setiap fase hidup itulah kita akan menemukan nilai yang membuat kita lebih bijaksana dalam memaknai semuanya.

Karena itu, buku ini berjudul Jika Kita Tak Pernah Jadi Apa-apa.

Hampir sulit menemukan cela dari buku ini, karena Bang Alvi sudah membahas semuanya. Kecuali fase after marriage wkwk.

Oh, dan juga tentang anak SMK. Tentang mereka yang kebanyakannya setelah lulus langsung mencari kerja dengan hanya bermodal ijazah SMK dan sertifikat keahlian, serta modal sertifikat praktek kerja industri. 

Ya, dibuku ini tak dibahas secara khusus tentang itu, tapi kalian yang alumni SMK tetap bisa dapat pencerahan dari beberapa bab yang menyinggung tentang setelah lulus SMA tidak bisa lanjut kuliah, tapi tetap menuntut ilmu, mempelajari skill-skill baru, memaksimalkan kemudahan akses informasi dan kursus pelatihan online gratis/berbayar agar menjadi nilai tambah bagi kita sendiri.

Meskipun pada akhirnya semua itu akan kalah jika kita tetap ingin bekerja pada kantor yang mengutamakan sarjana menjadi syarat utamanya. Memang ada beberapa posisi dan kantor yang menetapkan sarjana menjadi syarat mutlak.

Tapi jangan berkecil hati. Karena kita sudah punya skill, kenapa kita tidak membuka peluang sendiri. Tak ada yang sia-sia jika kita sudah berusaha dan berserah pada Yang Maha Kuasa. Aku percaya itu.

Dan kalian juga akan menjumpai kisah ajaib yang dialami langsung oleh Bang Alvi, selaku penulisnya.

Aah, aku sangat merekomendasikan buku ini sebagai salah satu bacaan kalian yang masih bingung dengan masa depan dan agar kalian semakin penasaran, aku akan menyisipkan kalimat-kalimat yang mengena dari buku ini. Happy reading.

"Kita… hanyalah sekumpulan tulang-belulang yang terjebak dalam cerita yang tak kita inginkan." (Hal. 20).

"Bagiku, kesuksesan di dunia ini adalah bisa merasa cukup." (Hal. 33)

"Well, selamat datang di kehidupan; sebuah dunia di mana rintangan tak akan pernah berakhir. Kita selalu sok tahu tentang kehidupan. Mengira satu kondisi adalah satu-satunya solusi atas masalah kita. Namun, setelah solusi ditemukan, kita akan bertemu lagi dengan masalah baru. Begitu terus. Melelahkan memang." (Hal. 42)

"Kita tak pernah tahu akan jadi apa. Meski kita tahu kita ingin jadi apa. Kita tak pernah benar-benar tahu. Jadi, kita butuh belajar. Kita butuh ilmu." (Hal. 47)

"Kita tak ingin dibandingkan, tetapi kita terus membandingkan." (Hal. 66)

"Coba segalanya. Maksimalkan usahamu. Sampai tak ada pilihan yang tersisa selain.. ubah haluan." (Hal. 87)

"Kita tinggal di dunia yang tak sempurna; diisi oleh orang-orang tak sempurna; tetapi, menuntut kesempurnaan." (Hal. 114)

"Jadi, apa makna keluar dari zona nyaman jika ujung-ujungnya yang dicari juga kenyamanan?" (Hal. 178)

"Namun, di lubuk hati terdalam, kita diam-diam merasa butuh validasi orang-orang kalau kita memang sudah sukses dan bahagia." (Hal. 192)

"Dan, begitulah saat kita mati: Kita mengira telah mempersiapkan sebaik-baiknya, tetapi yang kita persiapkan hanyalah masa depan duniawi, melalaikan masa depan akhirat." (Hal. 197)

"Selama ini, kita selalu berpikir dan memperjuangkan agar memiliki hidup yang menenangkan. Sayangnya, kita lupa dan berjuang agar memiliki mati yang menenangkan." (Hal. 202)

"Kita tak pernah tahu akhir kisah seseorang. Kita bahkan tak tahu akhir dari diri kita. Jadi, tetaplah merendah." (Hal. 214)

"Maksudku, hidup ini penuh ketidakpastian dan kekecewaan." (Hal. 219)

Share:

Jumat, 03 Januari 2020

Kilas Balik Tahun 2019

(image 2019 via pinterest)

Tak terasa hari ini sudah berada dipenghujung tahun 2019. Hari demi hari tak sedikitpun berlalu tanpa cerita. Selalu ada kesan suka dan duka yang telah dilewati, menempa diri agar lebih baik lagi di tahun berikutnya.

Menurut ku pribadi sendiri, tahun 2019 ini menjadi tahun yang penuh kejutan, tekanan, cerita dan segala hal yang tak dapat ku sangka. Tahun pertama yang memaksa aku harus keluar sepenuhnya dari zona nyaman.

Dan sebagai bentuk apresiasi kepada diri sendiri, aku menuliskan kesan, suka duka dan pencapaian ku di tahun 2019 pada postingan ini. Agar kelak jadi pengingat saat aku hampir menyerah di tahun berikutnya. 

Mulai dari….


Januari

Bulan pertama ku di tahun 2019 adalah masa beradaptasi di lingkungan kerja baru. Setelah satu bulan diterima bekerja disalah satu perusahaan swasta, aku banyak mempelajari hal baru. Bertemu dengan orang baru.

Kebetulan posisi kerja ku ini mengharuskan untuk berinteraksi selalu dengan orang-orang, makanya begitu ada waktu untuk sendirian. Aku lebih memilih sendiri, karena saat sendirian aku merasa energi ku seperti dicharge ulang.


Februari

Yeay, bulan kelahiran.

Februari tahun 2019 usia ku genap 20 tahun. Kata orang, diusia segini merupakan pintu gerbang menuju fase quarter life crisis. Tapi aku tak peduli. Toh, sejauh ini semuanya masih baik-baik saja

Dan dibulan ini pula aku mulai berkeinginan untuk kembali menghidupkan blog ini, setelah sekian lama rehat.


Maret

Tak ada hal yang spesial.

Dibulan ini aku lebih menunjukkan keseriusan ku dalam mengelola blog. Aku mulai rajin menulis hal yang bisa ku tulis dan layak dibaca, curhatan alay tentang cinta sudah ku buang jauh jauh dari jejak peradaban blog ini. Kemudian agar semangat ku tak naik turun dalam mengelola blog, aku mulai mencari komunitas yang sekiranya bisa mendukung hobi ku.


April

Dan akhirnya dibulan ini aku resmi jadi salah satu anggota komunitas blogger hits asal Kalimantan Selatan yaitu, Female Blogger Banjarmasin. Sebuah komunitas blogger perempuan yang tetap solid dan kompak, meski anggotanya berasal dari daerah yang berbeda-beda tapi masih satu provinsi.

Senang kali, akhirnya punya rekan sehobi dan di komunitas ini juga aku banyak dapat ilmu tentang dunia blogger yang bermanfaat untuk keberlangsungan masa depan blog ku.


Mei

Setelah berhasil jadi bagian dari komunitas didaerah ku. Aku mulai merambah mencari komunitas blogger lain dengan skala nasional. Ternyata ada. Salah satunya adalah Blogger Perempuan Network.

Oiya, dibulan Mei ini aku juga mengikuti blog challenge pertama yang bertema Ramadhan. Tentu saja acara ini diadakan oleh Blogger Perempuan Network.


Juni

Lebaran tahun ini jatuh di bulan Juni.

Menariknya, selain dapat THR, aku juga berhasil menyelesaikan tantangan menulis blog dengan berbagai tema selama Ramadhan dan jadi salah satu dari 5 pemenang tantangan. Sebuah pencapaian pertama yang luar biasa sekali buat ku


dok. pribadi


Juni

Lebaran tahun ini jatuh di bulan Juni.

Menariknya, selain dapat THR, aku juga berhasil menyelesaikan tantangan menulis blog dengan berbagai tema selama Ramadhan dan jadi salah satu dari 5 pemenang tantangan. Sebuah pencapaian pertama yang luar biasa sekali buat ku.

Karena tak menyangka saja, aku punya tekad sekuat itu dalam menyelesaikan tantangannya.

FYI yaa, menulis blog one day one post itu berat sekali. Meski tema sudah ditentukan perharinya apa, tapi kita tetap harus riset juga tentang isi postingan yang akan ditulis. Tidak boleh asal.
Sungguh sebuah pengalaman dan pengetahuan berharga buat ku.


Juli

Di bulan Juli tak begitu banyak hal menakjubkan yang terjadi.

Setelah berhasil memenangkan tantangan blog bulan lalu, aku jadi keranjingan untuk mengikuti lomba blog lainnya. Penasaran, ingin mengasah skill dengan menjelajah tema baru, dan mencoba peruntungan juga wkwk. Mana tau menang, soalnya hadiah lomba blog ini menggiurkan sekali.

Selain menyibukkan diri dengan ikut lomba blog, pekerjaan dikantor juga mulai bertambah, mulai muncul pula tekanan. Aku jadi harus belajar menyeimbangkan waktu antara kerja dan hobi.

Hm, ini kali pertama aku merasakan atmosfir 'drama kantor' yang sesungguhnya.


Agustus

Bulan perayaan hari jadi kemerdekaan Indonesia.
Tapi aku tak semerdeka itu untuk merayakan.
Menyedihkannya, semua lomba yang aku ikuti di bulan Juli tak satupun yang menang. Huhu.

Kabar baiknya, tepat tanggal 18 agustus 2019. Aku resmi jadi MAHASISWA!!!
Namanya juga maba, pasti masih semangat semangatnya kuliah. Jiwa masih bergelora untuk mengenal kehidupan kampus.

Hal itu terjadi pula dengan ku. Rasa syukur luar biasa karena bisa juga akhirnya mengenyam pendidikan di bangku kuliah dengan biaya sendiri. Sesuatu yang dulu hanya bisa aku targetkan dan bayangkan akan terjadi.


September

Setelah kecewa dengan hasil dari lomba blog bulan lalu, aku memilih untuk vakum lagi. Aku malas untuk menulis sesuatu yang baru lagi di blog. Ngambek ceritanya wkwk.

Di bulan september ini aku beralih fokus ke kuliah, karena kelas pertama ku dimulai. Aku harus punya first impression yang bagus dan semangat yang positif agar bisa mengarungi dunia perkuliahan yang baik selama satu semester ke depan.


Oktober

Ekspektasi tentang dunia perkuliahan yang indah dibantah habis di bulan oktober ini. Baru satu bulan, tapi aku sudah merasa cukup tertampar dengan tugas yang tak kenal kesibukan. Waktu buat leyeh leyeh habis pulang kerja sekarang mulai tersita.

Agar tetap waras, aku kembali menulis dan ikut lomba blog tipis tipis.

Lalu seakan jadi penyeimbang, aku berhasil memenangkan beberapa lomba blog dan menulis.


dok. pribadi 

dok. pribadi 




November

Kuliah lagi padat. Tugas, UTS, kerja kelompok, semuanya seakan menyita perhatian.
Belum lagi pressure dikerjaan. Bersyukurnya disaat tugas dan UTS yang padat, aku punya atasan yang mengerti situasi ku. Jadi aku masih tetap bisa menyeimbangkan keduanya.
Tapi menjelang akhir november, badai yang merubah segala pola pikir ku itu datang.


Desember

Sebuah situasi yang tak dapat aku deskripsikan.
Awalnya ku kira semua akan berjalan lancar, sesuai ekspektasi. Apalagi langkah demi langkah berlalu sebagaimana mestinya.

Namun mental ku terguncang saat berhadapan dengan hal diluar rencana ku. Diluar prediksi. Tak disangka.Kejadian yang meyakini ku bahwa ini masih di dunia, tempatnya ketidakpastian, segala hal bisa terjadi. Diluar kendali.

Aku yang tak siap melalui semuanya sempat putus asa, ingin mundur dan berpikir dunia akan berhenti begitu saja. Aku sampai pada titik dimana kegalauan ku sudah bukan tentang cinta lagi. Aku terlalu payah untuk kehidupan yang kejam.

Tapi aku sadar, mungkin inilah fase awal bertumbuh.

Beranjak dari semua yang terjadi, aku menyadari hal yang sering terlupa selama ini. Hal yang mulai terabaikan saat aku mulai berpacu dengan kesibukan.

Aku lupa dengan hakikat pemegang kekuasaan hanya ada pada Tuhan. Aku berusaha, tapi lupa menyerahkan semua hasil pada-Nya. Sang Maha Pasti.

Beruntungnya, aku menyadari semua saat guncangan yang ada masih tak begitu hebat. Sehingga aku tetap bisa bangkit lagi. Aku juga punya team support pribadi yang selalu mengingatkan dan menguatkan.

Kini aku coba berbenah dan menata semua yang bisa ku lakukan. Sisanya biar Tuhan yang menentukan.

Terima kasih untuk semua cerita dan pengalaman yang tak terduga, 2019.
Share: