Minggu, 28 April 2019

[Cerpen] Waktu Yang Salah Part 1


“Ren, ada yang mau aku omongin sama kamu”

“Apa, dit?”

“Kita kan temenan udah lama, sebelumnya aku nggak pernah mikirin ini juga, tapi sejak ngeliat kamu ditinggalin sama Dannu, ngeliat kamu sering galau dan nggak seceria dulu, aku jadi pengen ngembaliin senyum kamu lagi..”

“Maksud kamu?”

“Kamu mau nggak berkomitmen sama aku untuk menganggap hubungan kita ini bukan cuma sekedar teman lagi? Aku pengen jadi alasan kamu buat tersenyum terus tiap hari, kamu mau kan?”

Rena terdiam. Mulutnya menganga tak percaya dengan apa yang terjadi padanya saat itu. Teman SMP nya yang sangat usil dengan dirinya, sempat menghilang beberapa waktu dan kemudian datang kembali mengisi hari-harinya dengan jiwa yang baru.

Dito.

Ya, dia yang dulu sering menjambak rambut Rena, menghilangkan beberapa alat tulis, menyembunyikan sepatu, dan sering meminta Rena untuk mengerjakan PR nya, kini sudah berubah menjadi sosok yang amat sangat jauh berbeda.  Setelah 7 tahun lamanya. Secepat itu waktu mengubah segalanya.

“Hei, Ren, Rena..” Ucap Dito sambil mengibas-ngibaskan tangan di depan wajah Rena yang masih memasang tampang tak percaya.

“Hehe, mungkin masih terlalu cepat buat kamu, Ren, mengingat aku yang baru kembali ke kehidupan kamu cuma beberapa bulan ini. Tapi...”

“Dit...” sela Rena.

“Ya?”

“Jujur, semenjak kamu hadir lagi di hidup aku, aku kaget sama semua perubahan kamu, tapi itu yang bikin aku nyaman sama kamu. Kamu selalu ada disaat aku butuh seseorang untuk diajak curhat, selalu ada buat aku saat aku dicampakan untuk kesekian kalinya. Kamu tumbuh jadi orang yang nggak aku sangka, Dit. Kamu membawa warna baru di hidup aku dan aku juga ingin untuk memulai awal baru lagi sama kamu. Hanya saja...”

Mata Rena mulai berkaca-kaca. Sedikit terisak dan terdiam beberapa saat sebelum kembali melanjutkan ucapannya.

“Hanya saja apa?”

“Tadi pagi Dannu ngajakin aku balikan lagi,” jawab Rena dengan suara lemah.

“Lantas?” Dito coba memastikan keputusan Rena.

Rena hanya menggelengkan kepala. “Aku nggak tahu.” Hanya itu kalimat yang mampu keluar dari bibirnya.

Terbersit rasa kecewa di hati Dito. Tadinya ia pikir dengan rasa luka yang sudah diberi Dannu pada Rena akan membuatnya dengan mudah mendapatkan hati Rena. Nyatanya perasaan gadis itu masih terlalu dalam untuk lelaki macam Dannu.

“Kasih aku waktu, Dit.”

Dito hanya tersenyum samar. Entah dirinya kah yang tak mampu menguasai rasa atau waktu mereka yang salah untuk bersatu.

***

Satu minggu setelah kejadian itu, antara Dito dan Rena masih belum berubah. Keduanya masih saling bertukar cerita, hanya saja Dito mulai jengah. Ia tak bisa selamanya begini.

Begitu pun dengan Rena. Ia masih belum memutuskan hatinya terfokus untuk siapa, ia masih dengan intens berhubungan dengan keduanya. Dito. Dannu.

Namun sampai suatu saat ia menyadari ada perubahan dari sikap Dito. Ia merasa Dito mulai bersikap dingin, seperti menarik dirinya perlahan dari kehidupan Rena. Entahlah, semoga ini hanya perasaannya saja.

***

Aku nggak pernah ngerti bagaimana jalan pikiran wanita. Mau-maunya mereka tetap bertahan dengan lelaki yang sudah berkali-kali menyakitinya. Hanya dengan alasan lamanya waktu mereka bersama dan banyaknya kenangan yang pernah terjadi seperti menjerat gadis itu untuk selalu bersama lelaki macam itu, pikir Dito sambil memetik asal gitar yang dipangkunya. Ia merasa kalah dari Dannu!

Beberapa minggu terakhir ini, tepatnya setelah kejadian itu, Dito juga merasa hambar dengan Rena. Ia kecewa dan merasa tak tertarik lagi untuk terlibat obrolan dengan gadis itu, padahal dulu mereka bisa menghabiskan waktu sampai tengah malam hanya untuk sekedar membahas hal konyol bersama. Seperti tak pernah habis bahan pembicaraan. Jika saja Rena tak mengantuk, ia yakin obrolan tak berfedah itu pasti akan terus berlanjut sampai subuh.

Sangat jauh berbeda sekali dengan apa yang terjadi saat ini. Dito hanya tersenyum masam memikirkan semua itu. Tiba-tiba.. Drrrtt drrrtttt

Ponselnya berbunyi. Pasti dari Rena, tebaknya.

Benar saja.

Disaat Dito memilih untuk menarik diri dari kehidupan Rena, gadis itu justru malah sebaliknya. Ia semakin intens menghubungi Dito, mengajak Dito untuk bertemu, yang tentu saja selalu ditolak oleh Dito. Tapi Rena tak pernah menyerah. Seperti tak ingin hubungan mereka merenggang karena kejadian beberapa waktu lalu.

From : Rena
‘Hari ini kita bisa ketemu. Di kafe biasa ya, sekarang.’

Sebuah pesan dari Rena.

Huh, gadis ini selalu saja meminta untuk bertemu. “Baiklah, kita selesaikan malam ini,” gumam Dito.

To : Rena
‘Iya.’

Tanpa babibu lagi Dito pun langsung bergegas menuju tempat yang dimaksud.

***

Share:

0 komentar:

Posting Komentar