Jumat, 28 Agustus 2020

Jaga Hutan Jaga Kehidupan



Apa yang terlintas dalam pikiran kalian ketika mendengar kata ‘hutan’ ?


Sebuah tempat hijau. Nyaman. Sejuk. Berburu. Menyeramkan.


Begitulah kira-kira jawaban dari beberapa teman instagram ketika aku mengajukan pertanyaan serupa menggunakan salah satu fitur yang ada. Entah jawaban jujur atau hanya sekadar bercanda, menurut ku hutan jauh lebih berarti dari itu semua.


Dari dulu aku selalu tertarik dengan topik tentang alam dan lingkungan, termasuk salah satu diantaranya adalah tentang hutan. Aku juga sangat bersyukur karena lahir dan besar di Kalimantan, yang mana menjadi salah satu paru-paru dunia karena luas hutannya. Pun jika diajak berpetualang ke hutan, aku pasti paling bersemangat. Meski begitu, aku hanya pernah melakukan perjalanan menyusuri hutan 3 kali saja. Semoga suatu saat nanti akan terus bertambah.


Perjalanan pertama kali ketika masih duduk dibangku SMK, saat itu aku dan teman sekelas ingin berwisata ke salah satu air terjun di Balangan. Perjalanannya cukup panjang, apalagi menuju ke air terjunnya sendiri harus melalui hutan terlebih dahulu. Sempat terlintas dipikiran ku, bagaimana kalau nanti kami bertemu ular atau binatang buas lainnya, tapi pikiran itu ku buang jauh-jauh. Toh, aku tidak sendirian disini dan pula air terjun tersebut merupakan salah satu destinasi tujuan wisata jadi area hutan yang akan kami lalui dapat dipastikan aman asal tak berjalan keluar dari jalur. 



(dok. pribadi)


Perjalanan lain adalah saat ke Loksado-Hulu Sungai Selatan beberapa tahun lalu. Tempat ini berada dalam satu rangkaian pegunungan Meratus, hutannya pun masih terjaga sehingga hawa sejuk pegunungan terasa begitu damai ketika sudah sampai disini. Selain itu, Loksado juga terkenal dengan wisata bamboo rafting dan beberapa air terjunnya, tak mengherankan jika Loksado jadi salah satu tujuan destinasi bagi wisatawan domestik dan mancanegara.


Agenda ku kesini sebenarnya karena acara outbound dari kantor selama dua hari satu malam. Sebelum memutuskan untuk ikut, aku sempat ragu karena belum pernah sama sekali ke Loksado. Dalam bayangan ku, tempat ini masih primitif sehingga bermalam disini rasanya seperti bermalam di alam liar. Ternyata dugaan ku salah besar.


Loksado berkembang sebagai kawasan wisata yang bagus dengan fasilitas yang cukup lengkap, penginapan dan villa yang ditawarkan pun sangat menarik. Termasuk villa tempat kami bermalam ini, depannya dilalui aliran sungai Amandit yang cukup deras. Riak air pun masih terdengar dari dalam villa, rasanya persis seperti mendengar suara deburan ombak pinggir pantai. Menenangkan.


Besok paginya, kami mengunjungi air terjun sekitar sini dengan berjalan kaki. Jaraknya cukup jauh, tapi pemandangan disepanjang jalan tak membuat ku merasa lelah karena selalu saja ada hal yang menarik perhatian ku. Salah satunya aktivitas penduduk (suku dayak) yang sedang menjemur rempah-rempah hasil hutan, seperti kayu manis, kemiri, lada dan berbagai macam rempah dapur lainnya.


Kami berjalan terus masuk ke dalam hutan dengan jalan yang mulai menanjak, dari sini mulai terdengar suara tonggeret dan kicauan burung. Bahkan jika sedang beruntung, bisa saja bertemu bekantan. Namun sayangnya hari itu bukan hari keberuntungan kami.  Perjalanan terus berlanjut mengikuti jalan setapak menuju air terjun, sambil sesekali kami juga bertemu warga yang baru saja turun dengan memikul sekeranjang penuh kayu manis. Sungguh betapa kehidupan disini sangat bergantung pada hasil hutan.


Suara gemericik air terjun sudah terdengar, aku mempercepat langkah sambil berjalan hati-hati melalui aliran air dengan bebatuan yang cukup licin. Sesekali ada beberapa ikan kecil berenang disekitar kaki ku. Tak berapa lama terpampang lah pemandangan di depan ku. Sebuah air terjun yang tidak terlalu tinggi dikelilingi pepohonan hijau membuat sejuk suasana. Airnya pun segar. Memang tak sia-sia melakukan perjalanan kesini. Melihat pemandangan yang ada membuat rasa lelah hilang seketika, aku hanya berharap semoga apa yang ku rasakan saat ini bisa terus bertahan lama, tak hanya dinikmati oleh kita, tapi bisa dinikmati sampai anak cucu kita nanti.



(dok. pribadi)

Dari sini aku menyadari bahwa hutan bukan suatu hal yang mengerikan, tapi bukan pula untuk diremehkan sehingga tidak perlu waspada saat bertandang ke hutan. Adapun rasa sejuk dan tenang yang dirasakan hanya segelintir manfaat dari adanya hutan, oksigen yang dihirup, serta bumbu rempah didapur kalian hampir sebagian besar berasal dari hutan. Flora, fauna dan manusia secara berkesinambungan membentuk suatu ekosistem yang tak bisa terlepas dari hutan, bahkan penduduk yang tak berada dekat dengan hutan pun turut merasakan manfaatnya. Jika memang sudah sangat sebergantung ini, lantas masih kah kita tega untuk membiarkan luas hutan yang semakin berkurang setiap tahunnya?


Dilansir dari kbr.id, menurut data BPS luas tutupan hutan yang hilang di Indonesia dalam periode waktu 2014 sampai dengan 2018 berkurang sekitar 1,4 persen atau sebesar 2.685.012 hektare dalam kurun waktu lima tahun dan ini terjadi hampir diseluruh pulau di Indonesia. Khususnya bagi penduduk Sumatera dan Kalimantan sendiri pasti sudah tidak asing dengan kabut asap hasil kebakaran hutan yang hampir menjadi langganan setiap musim kemarau tiba. Meskipun ada beberapa faktor lain yang jadi penyebab berkurangnya luas hutan antara lain peristiwa alam, penebangan hutan, reklasifikasi lahan hingga pertumbuhan penduduk.


Melihat itu semua, penggiat lingkungan dan sejumlah relawan berinisiatif bahu membahu untuk mempertahankan hutan yang ada sehingga lahirlah Hari Hutan Indonesia pertama yang jatuh pada tanggal 7 Agustus 2020. Hari Hutan Indonesia bertujuan sebagai momen refleksi agar hutan yang ada perlu dijaga bersama oleh setiap orang agar tetap ada, selain itu juga sebagai ajang untuk gotong royong menyuarakan ke khalayak yang lebih luas lagi akan pentingnya kesadaran dalam menjaga hutan dan peran hutan terhadap berlangsungnya kehidupan di bumi.



Hari Hutan Indonesia (sumber : instagram hutanituid)


Saat ini sudah ada beberapa program menjaga hutan jarak jauh untuk kalian yang belum bisa terjun langsung dalam kegiatan menjaga hutan dan tempat tinggalnya jauh dari hutan, diantaranya adopsi hutan dan mengasuh pohon. Adopsi hutan adalah program donasi untuk membantu masyarakat penjaga hutan Indonesia. Dana yang terkumpul akan digunakan lembaga masyarakat setempat untuk patroli hutan desa/adat, modal wirausaha produksi hasil hutan non-kayu dan klinik kesehatan warga. Sedangkan pohon asuh adalah program yang memberi kita kesempatan untuk mengasuh pohon di hutan yang sudah dipelihara masyarakat sekitar. Kalian juga bisa menjadikan pohon asuh ini sebagai hadiah untuk orang terkasih.


Adopsi hutan dengan donasi (sumber : instagram hutanituid)


Langkah Mengasuh Pohon (sumber : instagram hutanituid)


Manfaat Mengasuh Pohon (sumber : instagram hutanituid)


Melalui berbagai program ini diharapkan kita semua dapat terus berpartisipasi dalam menjaga hutan, karena menjaga hutan jaman now bisa dilakukan oleh siapapun, dimanapun dan kapanpun. Selain itu masih ada banyak lagi rangkaian acara menarik dalam memeriahkan Hari Hutan Indonesia yang berlangsung sampai tanggal 31 Oktober 2020 nanti. Kalian bisa follow instagram hutanituid dan subscribe youtube Hari Hutan Indonesia agar tidak ketinggalan update info terbaru mengenai jadwal acaranya, selain itu ada banyak sekali narasumber dan pengisi acara dari berbagai kalangan yang turut berpartisipasi. Makanya jangan sampai ketinggalan dan terus sebarkan kesadaran kepada yang lainnya agar terus menjaga hutan.





Salam hutan lestari!



Sumber :

1. kbr.id : https://m.kbr.id/nasional/12-2019/periode_pertama_jokowi__luas_hutan_indonesia_berkurang_2_6_juta_hektare/101770.html#:~:text=%22Luas%20tutupan%20hutan%20yang%20hilang,di%20semua%20pulau%20di%20Indonesia.

2. Instagram hutanituid : https://instagram.com/hutanituid?igshid=1sgzlxoikwfe6

3. Youtube Hari Hutan Indonesia : https://www.youtube.com/channel/UC9ZTR-RxXf-HKZl2f-QehJw

4. Foto background : MI/Denny Susanto

5. Pohon Asuh : https://pohonasuh.org/

Share:

10 komentar:

  1. Beruntunglah kita yang tinggal di Klaimantan, masih ada banyak hutan teduh yang kita kunjungi. Mari kita jaga hutan jaga kehidupan manusia.

    BalasHapus
  2. Kalo apa yang terpikirkan saat mendengar kata 'hutan', kadang parno sendiri. Why? karena aku paling geli dengan hewan reptil. Adoh doh, kacau deh kalo sampe ketemu ular di hutan. Tapi hutan memang memiliki peran penting dalam kehidupan. Makanya identik dengan istilah 'paru-paru dunia'.

    BalasHapus
  3. sudah lama sekali ngga jalan ke loksado ih.. aku juga senang banget "lari dari kenyataan" pergi ke hutan gitu mba. semacam me-healing diri

    BalasHapus
  4. Aku bukan pecinta hutan banget. Tapi sadar kalau hutan memegang peranan penting bagi kehidupan.
    Sepertinya saat ini gk cukup koar2 selamatkan hutan tanpa ada perlindungan pasti dari pemerintah. Karena di Kalimantan sendiri hutan banyak dibabat untuk sawit.
    Sudah saatnya ada kurikulum tentang selamatkan hutan di sekolah. Keberhasilan tentang kampanye hutan ada di tangan generasi muda kedepannya. Memupuk rasa peduli sedini mungkin

    Btw tulisannya keren kak Helka

    BalasHapus
  5. Sedih sekali kak, membaca faktanya bahwa dalam kurun waktu 4 tahun hutan indonesia telah hilamg sebanyak lebih dari 2 juta hektar...

    BalasHapus
  6. Hari hutan 31 Oktober ya, ah semoga hutan Indonesia tidak semakin ditebas. Padahal penting banget, kita kalau gak ada hutan ya bisa apa.

    BalasHapus
  7. Yes! betul kita harus menjaga keberadaan hutan. Apalagi ditengah kondisi sekarang, yang pembangunan rumah, pertokoan semakin bertambah artinya kita juga perlu ruang seperti hutan untuk tetap menstabilkan kehidupan kita yakan. Karena, hutan adalah paru-paru dunia.

    BalasHapus
  8. Nambah insight baru ttg program adopsi hutan nih. Keceh sih programnya. Semoga kelestarian hutan di Indonesia bs terjaga yaaa

    BalasHapus
  9. Waaaa Loksado, awal tahun kemarin kesana dan liat foto itu jadi kangen pengen kesana lagi.

    BalasHapus
  10. Semoga kesadaran masyarakat kita semakin tinggi untuk menjaga kelestarian hutan bersama-sama ya

    BalasHapus