Jumat, 26 Maret 2021

Pulau Patai, Hidden Paradise of Central Kalimantan


Akhir pekan minggu lalu, aku mengunjungi salah satu wisata yang ada di Kabupaten Barito Timur, Kalimantan Tengah. Momentumnya pas banget karena bulan ini ada Hari Air Sedunia dan Hari Hutan Sedunia, aku bersyukur bisa berkunjung kesini. Waktu tempuhnya lumayan singkat -dari kota Tanjung- dan menurut testimoni memuaskan dari teman-teman yang pernah kesana, aku memutuskan menghabiskan waktu disini.

Adalah Pulau Patai. Sebenarnya nama tempat wisata ini adalah Wisata Alam Patai Suku Hawa (Pasuha), tapi karena terletak di desa Pulau Patai. Orang-orang lebih sering menyebutnya Pulau Patai.


Coba saja kalian search di google maps, nama Pulau Patai. Pasti yang muncul seperti location unknown, tempat yang tak terjamah, jauh dari kota dan nggak ada jalan buat kesana. Aku juga pertama kali tahu sempat berpikir, "kok bisa ya orang-orang nemu jalannya?"


Setelah ditelusuri, ternyata aku yang salah ketik kata kunci. Hahaha. Harusnya pakai kata kunci Wisata Alam Pasuha dan tadaaaa you find way to there.


Baca juga : Ngabuburit di Taman Bunga Poska


Sebelumnya juga tak banyak yang tahu kalau tempat wisata ini sudah buka dari tahun lalu, tapi karena bertepatan dengan masuknya pandemi di Indonesia membuat mobilitas pengunjung minim. Apalagi sempat diterapkannya lockdown. Beruntung sekarang, meskipun perlahan, kita sudah mulai bisa beraktivitas diluar lagi meskipun tetap harus menerapkan prokes.


But it's okay, demi kebaikan bersama.


Bermodal google maps sebagai navigator, kami pun menuju Pasar Tamiyang Layang sebagai titik temu pertama. Kemudian menuju Desa Serapat, disini google maps mulai ngaco seiring dengan jaringan yang mulai hilang-hilangan. Kami kehilangan arah.


Menurut ku, disinilah seninya melakukan perjalanan. Ketika kamu kehilangan arah ditempat yang belum pernah dikunjungi, disitu mau nggak mau kita dipaksa untuk keluar dari zonanya kita. Kita yang sebelumnya pemalu atau sehari-harinya lebih banyak diam, mau nggak mau harus berani bertanya pada warga setempat. Orang yang nggak kita kenal.


Sebagai overthinker, tentu saja banyak hal yang berseliweran di kepala ku. Tapi rasa untuk menemukan 'jalan yang benar' lebih besar dari sekadar menuruti jalan pikiran. Ternyata kami lepas dari rute seharusnya, tapi berkat clue dari warga kami menemukan jalan yang benar lagi menuju Desa Pulau Patai. Maklum, jalannya masih belum ada papan nama.


Dari belokan tersebut, kami hanya perlu terus berjalan lurus. "Desanya paling ujung," kata salah satu warga. Aku mulai overthiniking kembali.


Setelah kurang lebih 15 menit, kami pun sampai di ujung jalan beraspal. Tepat di depan kami ada jembatan kayu dengan titian yang cukup panjang, diatasnya bertuliskan ‘Wisata Alam Pasuha’.


BINGO!





Tidak butuh waktu lama kami pun parkir dan mengeksplor jembatan dengan titian kayu tersebut. Rutenya cukup panjang, menjorok ke dalam memasuki kawasan hutan. Sesekali di sampingnya ada gazebo untuk bersantai. Tapi sangat disayangkan infrastrukturnya sudah mulai rapuh karena terbuat dari kayu seadanya. Mungkin karena tempat wisata ini berjalan hanya dari warga sekitar dan tidak ada peran pemerintah daerah untuk lebih mengembangkan tempat ini.


Setelah puas mengeksplor, kami pun menuju icon Pulau Patai tersebut menggunakan perahu yang disewa dari warga, cukup membayar 25 ribu per orang. Jumlah ini untuk penumpang maksimal 6 orang. Jika kurang dari itu maka kalian harus mengeluarkan budget lebih.



Baca juga : Liburan ke Nateh


Wisata menyusuri sungai pun dimulai.









Melewati sungai yang disekelilingnya masih dipenuhi rimbunnya hutan membuat ku  merasa seperti di Kalimantan banget. Yah, seperti yang kalian tahu, hutan Kalimantan saat ini sudah banyak berkurang. Dan aku bersyukur salah satunya masih tersisa tempat ini dengan akses yang mudah dijangkau pula. Kalian harus coba merasakan sensasinya.


Tadinya ku pikir setelah keluar dari hutan kita akan langsung sampai di Pulau, eh ternyata masih terus berjalan lagi. Tepatnya melewati sebuah kawasan rawa yang sangat luas. Di tengahnya terdapat kerbau rawa dan kandangnya. Sesekali kalian akan berjumpa dengan para pemancing. Ya, kawasan ini sudah terkenal lebih dulu dikalangan para pemancing lokal.


Tapi sempat terlintas dalam pikiran ku ketika berada disini, bagaimana jika didalam rawa ini ada anaconda?


Jika kalian pernah menonton film Anaconda yang berlatar di Pulau Kalimantan, maka saat berada disini, kalian akan memikirkan hal yang sama.


But ya, itu hanya sepintas overthinking ku saja. Selebihnya tempat ini menakjubkan.








Dan kalian akan bertambah kagum lagi ketika sampai di pulaunya. Sebuah dataran luas dengan pohon yang aesthetic. Masuk ke dalam lagi, kalian akan menemukan savana luas. Menurut ku damagenya seperti di afrika, hm, atau baluran mungkin. Eh.


Oke, pemikiran ku terlalu berlebihan.


Tapi aku sangat merekomendasikan tempat ini untuk dikunjungi. Selain karena budgetnya pas dikantong dan aksesnya mudah, sensasi yang ditawarkan dari pemandangan disini lebih dari sepadan.


Oh iya, jika kalian akan kesini saran ku, bawa beberapa cemilan atau minuman sendiri karena masih belum banyak yang berjualan dan jangan lupa bawa kembali sampah kalian.


JANGAN DITINGGALKAN DISINI !


Aku cukup kecewa karena saat berada di pulau aesthetic, masih ada sampah botol air mineral disana. Hei, itu sangat tidak bertanggung jawab!


Sekian cerita dari perjalanan singkat ku di akhir pekan. Kalau akhir pekan kalian bagaimana? Adakah tempat menakjubkan atau worth it untuk melepas penat yang aksesnya mudah dan dekat dengan lokasi kalian? Mari bercerita di kolom komen yaaa..


Share:

Sabtu, 13 Maret 2021

Take a Break




Akhirnya menulis lagi setelah menghilang sekian lama. Terakhir kali menulis hanya untuk kebutuhan komunitas setelah itu lost. Aku tidak punya ide sama sekali.


Lebih tepatnya, jiwa perfeksionis ku sedang menggebu-gebu. Apalagi setelah mengikuti beberapa kelas SEO dan personal branding dari profesional, disitu aku mulai menetapkan ekspektasi tinggi untuk blog ini.


"Pokoknya aku harus membenahi blog ini dulu sebelum mulai menulis, supaya optimasi SEO pada blog ku bisa maksimal."


Setelah terjun untuk berbenah, aku bingung harus mulai darimana. Aku nggak ngerti. Akhirnya aku coba bertanya sama beberapa 'suhu' di komunitas blogger. Hasilnya cukup banyak koreksi. Sehingga muncul pemikiran ini, "Aku nggak punya banyak waktu buat berbenah sebanyak ini, kayaknya emang harus ngambil cuti kerja biar fokus."


Finally, setelah cuti aku malah berleha-leha mengerjakan yang lain. Diluar rencana. Begitu cuti selesai, blog ku tidak mengalami perubahan.


Poin yang bisa aku pelajari disini adalah untuk berhenti menyalahkan waktu.


Baca juga : Happy Twe(e)nty Two!


Semuanya pun berlalu seperti biasa tanpa perkembangan berarti, nggak sengaja hari itu aku melihat begitu banyak lomba blog berseliweran di timeline instagram. Aku ingin ikut, tapi sadar diri dengan keadaan blog ku sekarang. Aku menahan diri lagi dan satu peluang tertutup.


Ya, aku hanya merasa tulisan yang terlalu informatif tidak cocok untuk ku. Aku lebih nyaman menulis cerita keseharian dan hal-hal yang dekat dengan ku.


Waktu kembali berjalan, terus berjalan dan aku masih tidak menghasilkan apa-apa. Sampai suatu ketika, salah satu anggota komunitas blogger mengadakan sesi sharing. Aku mengeluarkan uneg-uneg ku, "bisa nggak sih kita bikin tulisan yang personal tentang keseharian kita tapi tetap memberi manfaat? Maksud ku, siapa yang mau baca cerita kesehariannya kita yang bukan siapa-siapa ini?"


Celetukan ku itu langsung dijawab salah seorang blogger seperti ini, "bisa, contohnya tulisan ku saat ingin mencairkan dana bpjs ketenagakerjaan kemarin pv nya mencapai angka tertinggi."


Salah satu yang lainnya berucap, "tetap bisa, bahkan banyak kok blogger yang sukses jadi penulis berkat tulisan personalnya di blog seperti Raditya Dika, Gita Savitri, dll."


Aku tercenung, benar juga ya. Penulis sekelas Raditya Dika pun dulu awalnya menulis dari blog. Aku bersemangat lagi, namun saat akan mulai menulis tentang segala keresahan ku, baru 2 paragraf, aku terdiam. Aku berpikir, apakah ini layak dibaca orang? Bukankah ini akan menjadi rekam jejak? Bagaimana jika suatu saat nanti tulisan ku ini menjadi masalah? Aku dihujat? Lalu bagaimana jika ada rekan ku yang membaca? Apakah tulisan ku ini bisa dimengerti? Aku seperti tidak menemukan rasa dalam tulisan ku, tidak seperti punya rekan blogger ku yang lain? Kenapa pikiran ku bisa sampai sejauh ini? KENAPAA?!?!?!!!


Oh tidak, aku mulai overthinking. Dan akhirnya tulisan yang baru 2 paragraf itu tidak pernah selesai.


Lalu suatu waktu, saat aku melihat foto-foto lama. Bernostalgia. Ternyata sudah banyak cerita yang ku lalui dan aku berucap pada partner ku, "aku pengen banget seenggaknya dalam hidup bisa punya satu buku karya ku sendiri."


"Isinya tentang apa?"


"Kisah hidup ku."


"Emang kamu udah berhasil mencapai apa sampai kamu layak jadi inspirasi?"


"Kan aku pengen bikin buku, bukan jadi inspirasi."


"Memangnya apa tujuan orang membaca buku kalau bukan untuk mendapat inspirasi atau pandangan hidup?"


Aku terdiam. Bener juga.


"Nggak usah terlalu dipikirin, nggak ada yang salah sama impian mu. Kamu cuma harus realistis, nggak ada langkah besar yang nggak dimulai dari hal kecil."


Ucapan yang menyadarkan sekaligus menghibur ku.


Dan disinilah aku sekarang, menulis tulisan ini sebagai pengingat jika nanti aku malas menulis lagi dan juga sedang berproses dalam menemukan gaya tulisan yang tetap informatif tapi tetap ada 'aku' disitu.


Harapan ku sederhana semoga aku bisa istiqomah menulis. Tulisan apapun itu, hajar aja. Jangan kebanyakan mikir!

***


Kalian, apa pernah mengalami hal yang sama dengan ku? Mari sharing di komentar ;)


Share: