Sabtu, 26 September 2020

Tips Make Up Selama Pandemi

Selama pandemi seperti ini ada begitu banyak kelas online yang bisa diikuti untuk menambah skill maupun pengetahuan dalam bidang tertentu, termasuk dalam dunia kecantikan. Pada tanggal 20 September 2020 tepatnya hari Minggu, aku berkesempatan untuk mengikuti Wardah Virtual Class bersama teman-teman dari komunitas Female Blogger Banjarmasin. Kelas yang diadakan via zoom pada pukul 10.00 WITA ini memberi banyak pengetahuan baru untuk ku, khususnya dalam make up karena aku sendiri masih belum paham betul mengenai make up.

Kelas Make Up Wardah (source : Wardah)

Meskipun tidak semua anggota komunitas FBB dapat berhadir, acara ini tetap berlangsung kondusif dan asik, materi yang dibawakan mulai dari tahap pembersihan sampai make up selesai. Hayo, siapa yang baru tahu kalau sebelum make up kita juga harus memperhatikan kebersihannya?


Terlebih di masa seperti ini, dimana kebersihan dan kesehatan jadi prioritas nomor satu. Buat yang pengen tahu isi materi dari kelas kemarin, yuk simak tulisan ini sampai habis.


Tahap pertama, kita harus mencuci kedua tangan dengan sabun/hand sanitizer agar tetap steril. Make up termasuk aktivitas memegang wajah, dimana saat ini kita harus mengurangi kegiatan memegang area wajah untuk meminimalisir penyebaran virus covid. Supaya praktis, aku menggunakan hand sanitizer bertekstur gel dari Wardah yang bernama Wardah Hydramild Hand Gel yang mengandung 80% alkohol dan ekstrak daun aloe vera yang berfungsi untuk melembabkan dan memberikan perlindungan dari kuman. Aku suka pakai kemasan travel sizenya karena mudah dibawa kemana-mana.


Tahap kedua, double cleansing. Tahap pembersihan secara mendalam ini sebisa mungkin untuk tidak dilewatkan ya, karena kunci kulit yang sehat adalah kulit yang bebas dari debu dan kotoran agar tak menyumbat pori-pori sehingga kulit pun tetap bisa bernapas. Selain itu make up juga bisa menempel lebih lama di permukaan kulit yang bersih.


Tahap ketiga, mulai dengan foundation untuk mengcover permukaan kulit. Dilanjutkan dengan pemakaian concealer untuk menutupi kekurangan pada permukaan kulit, misal jerawat, bekas jerawat & mata panda. Karena kelas make up ini virtual dan dilakukan dari rumah, peralatan make up yang digunakan pun milik sendiri. Berhubung peralatan make up yang aku punya seadanya, aku menggunakan foundation untuk menyiasati ketiadaan concealer. Hehe.


Tahap keempat, set foundation dengan bedak. Gunakan bedak yang sesuai dengan jenis kulit kalian ya, contoh jenis kulit berminyak dengan bedak tabur dan jenis kulit kering bisa dengan bedak padat. Kalau kombinasi gimana? Bisa dua-duanya, sesuaikan aja. Oh iya, tips mengaplikasikan bedak ini, kalian cukup tap tap aja di permukaan kulit. Nggak perlu tebal tebal.


Tahap kelima, mewarnai kelopak mata dengan eyeshadow. Aku masih kesulitan untuk bagian ini, terutama dalam blend warna eyeshadow dengan komposisi yang tepat sehingga memberi warna bagus tapi tetap natural.


Tahap kelima, membentuk alis. Aku bersyukur dikaruniai alis yang tebal -meskipun ngga beraturan- sehingga bisa aku skip dulu untuk tahap ini. Selain karena nggak punya pensil alis, aku masih nggak bisa sama sekali membentuk alis. Pernah sekali mencoba, tapi muka ku langsung jadi 10 tahun lebih tua dari usia aslinya wkwk


Tahap keenam, mengaplikasikan maskara. Meskipun kadang masih suka belepotan, aku tetap berusaha untuk rapi dalam mengaplikasikan maskara. Tipsnya, aplikasikan kuas maskara secara zig zag pada bulu mata dan hindari mengocok mascara secara berlebihan menggunakan aplikatornya.


Tahap ketujuh, merah kan pipi dengan blush on. Tips untuk yang berpipi chubby, jangan menggunakan blush on dibawah mata karena akan semakin memunculkan kesan chubby pada pipi kita. Gunakanlah seperlunya pada bagian bawah tulang pipi sampai mengikuti bentuk tulang pipi.


Tahap kedelapan, untuk sentuhan akhir supaya semakin mempercantik penampilan, gunakan pewarna bibir. Kali ini aku menggunakan lip cream dari Wardah dengan shade My Honey Bee.


Baca juga : Review Wardah Exclusive Matte Lip Cream Shade 14 My Honey Bee


Selesai deh rangkaian make up easy to glow make up look pada acara make up virtual kali ini.


Berikut hasilnya..


Hasil Make Up Wardah Virtual Class


Meskipun masih sedikit belepotan di bagian mata, aku cukup puas dengan hasil kelas make up kali ini. Emang ya feel belajar make up dari tutorial Youtube dengan ikut kelas gini beda, semoga nanti bisa bertemu lagi dikelas make up Wardah selanjutnya.






Regards,

HelkaSR






Share:

Selasa, 08 September 2020

5 Tips Agar Pelanggan Loyal

Kembali lagi bulan ini aku meramaikan FBB Kolaborasi dengan tema Hari Pelanggan Nasional yangjatuh tepat pada tanggal 4 September. Adanya Hari Pelanggan Nasional ini sendiri bertujuan agar kriteria kepuasan pelanggan tercapai sehingga menciptakan kepercayaan dan rasa loyal pelanggan terhadap perusahaan. Tidak hanya dalam ruang lingkup perusahaan, BUMN dan sekelasnya, dalam ruang lingkup kecil seperti penjual online shop pun sepertinya sudah harus mulai memperhatikan hal ini supaya olshopnya semakin berkembang.



Berbekal pengalaman selama belanja online, aku seringkali menemukan masih ada saja penjual yang melayani pelanggannya asal-asalan. Padahal banyak penjual lain yang juga menjual barang/jasa serupa, tapi tetap terus berinovasi terutama dalam hal pelayanan sehingga punya value yang membedakannya dengan penjual lain. Melihat hal ini, apa si penjual asal-asalan itu nggak takut ketikung? Ya, meskipun rezeki sudah diatur Tuhan tapi nggak ada salahnya berikhtiar dengan memperbaiki cara kita melayani pelanggan, bukan?

Jika kamu seorang seller yang sadar bahwa pelayanan adalah salah satu faktor pendukung terciptanya loyalitas pelanggan, aku harap 5 poin berikut bisa membantu mu mengevaluasi diri. Apa saja itu?



1. Memberikan spesifikasi dan keterangan yang jelas terkait produk yang ditawarkan


Misal nih, kalian pengen beli sepatu. Kalian udah sreg banget sama bentukannya, warnanya, tapi ngga ada keterangan lain seperti bagaimana cara mencocokkan sepatu tersebut dengan ukuran kaki kita. Males juga ngechat sellernya, pasti aku skip dulu nih yang model ginian. Mending nyari yang pasti aja dengan keterangan yang lebih lengkap. Aku termasuk selektif masalah barang yang harus diukur ini, tujuannya untuk menghindari kesalahan ukuran, entah itu kekecilan atau kebesaran. Meskipun ada fitur retur, tapi nggak semua toko menyediakan fitur ini dan prosesnya juga nggak sebentar.

Selain itu aku sering juga nemu seller yang produknya bagus tapi caption kosong melompong. Masih mending kalo captionnya nyuruh dm dulu buat minta pricelist, lah ini nggak ada caption sama sekali. Kita juga sebagai buyer jadi bingung, biasanya kalau kayak gini aku skip dulu, apalagi kalo produknya nggak perlu banget. Tapi kalo emang aku yang butuh, dengan berat hati akhirnya aku ngechat duluan.



2. Ramah dalam melayani


Ramah dalam melayani ini udah jadi rahasia umum dalam dunia pemasaran, tapi nggak semua seller bisa menerapkannya dengan baik. Pernah suatu waktu aku pengen beli sesuatu, aku tanya-tanya kan, eh tapi kok si seller jawabnya singkat dan apa adanya banget yak. Aku positif thinking, siapa tau dia ngira aku cuma sekadar nanya atau dia lagi banyak pelanggan yang ngechat jadi melayani seadanya. Lalu karena aku memang udah kepincut banget sama produknya disepakatilah jual-beli tersebut. Aku nunggu dikirimin norek buat tf dong biar cepat kelar, ternyata nggak dikirim-kirim. Akhirnya aku nanya lagi, eh baru dikirimin. KZL. Kesannya kayak aku gitu loh yang ngejar-ngejar mau bayar. Sellernya nggak mau duit, nih?

Saran aku, berdasarkan ilmu dari beberapa kelas marketing yang pernah ku ikuti, ketika ada pelanggan bertanya tentang produk hendaknya menjawab dengan sesuai dan bertanya balik semacam memberikan penawaran sehingga tercipta komunikasi dua arah yang berimbang. Misal nih…

    (Pelanggan ngirim foto) 

    Seller : Halo Kak, ada yang bisa kami bantu?

    Buyer : Baju ini ukurannya ada apa aja ya? 

    Seller : Oh baju yang itu tersedia dalam ukuran all size Kak. Kira-kira Kakak butuh baju ukuran berapa?

Nah, kayak gitu kan enak, si pelanggan jadi merasa dihargai. Biasanya kalo nemu seller yang seperti ini, meskipun niat awalnya aku cuma pengen nanya aja, ujung-ujungnya pasti kebeli. The power of ngerayu lah ceritanya wkwk



3. Memposisikan pelanggan sebagai teman spesial


Kalian kalau dikasih kado sama temen senang nggak? Senang dong yak, apalagi yang kita nggak pernah sangka sebelumnya. Terus gimana rasanya kalau kalian beli barang online padahal buat diri sendiri, terus pas paketnya datang packagingnya rapi, lucu gitu dan ada tulisan..

            Dear, (nama kalian),

            Hope things inside can give your happiness.

Berasa dispesialkan nggak sih?


Baca juga : Pengalaman Pindah Faskes BPJS Online


4. Beri giveaway/bonus dadakan


Siapa yang nggak suka kalau beli barang, terus begitu datang ada bonus kecil diselipin. Berasa dapat jackpot wkwk

Rajin-rajinlah memberi bonus kecil untuk pelanggan secara random. Selain produk yang berkualitas, pelanggan juga akan memberikan testimoni tulus ketika ada item diluar pesanannya. Tentunya hal ini akan membuat olshop mu semakin tersebar luas diluar jangkauan mu. Mereka semacam mempromosikan secara tidak langsung.



5. Rajin posting


Produk udah bagus, pelayanan udah oke, tapi setelah sekian purnama mau pesan barangnya lagi, tokonya kok nggak ada tanda-tanda kehidupan. Bahkan terakhir upload 1 bulan yang lalu dan nggak ada pengumuman apa-apa yang bisa kasih info tentang kabar toko ini. Kalau udah gini, yakin masih mau ngechat?


Itu dia 5 poin yang bisa dijadikan bahan evaluasi untuk membenahi olshop agar pelanggan semakin betah dan setia terus berbelanja di olshop kalian. Semoga di Hari Pelanggan Nasional ini bisa jadi ajang refleksi untuk meningkatkan kepuasan pelanggan. Eits, tapi jadilah pelanggan yang bijak ya, jangan berlaku seenaknya juga wkwk


Sekian.



Cheers,

Helka


Share:

Jumat, 28 Agustus 2020

Jaga Hutan Jaga Kehidupan



Apa yang terlintas dalam pikiran kalian ketika mendengar kata ‘hutan’ ?


Sebuah tempat hijau. Nyaman. Sejuk. Berburu. Menyeramkan.


Begitulah kira-kira jawaban dari beberapa teman instagram ketika aku mengajukan pertanyaan serupa menggunakan salah satu fitur yang ada. Entah jawaban jujur atau hanya sekadar bercanda, menurut ku hutan jauh lebih berarti dari itu semua.


Dari dulu aku selalu tertarik dengan topik tentang alam dan lingkungan, termasuk salah satu diantaranya adalah tentang hutan. Aku juga sangat bersyukur karena lahir dan besar di Kalimantan, yang mana menjadi salah satu paru-paru dunia karena luas hutannya. Pun jika diajak berpetualang ke hutan, aku pasti paling bersemangat. Meski begitu, aku hanya pernah melakukan perjalanan menyusuri hutan 3 kali saja. Semoga suatu saat nanti akan terus bertambah.


Perjalanan pertama kali ketika masih duduk dibangku SMK, saat itu aku dan teman sekelas ingin berwisata ke salah satu air terjun di Balangan. Perjalanannya cukup panjang, apalagi menuju ke air terjunnya sendiri harus melalui hutan terlebih dahulu. Sempat terlintas dipikiran ku, bagaimana kalau nanti kami bertemu ular atau binatang buas lainnya, tapi pikiran itu ku buang jauh-jauh. Toh, aku tidak sendirian disini dan pula air terjun tersebut merupakan salah satu destinasi tujuan wisata jadi area hutan yang akan kami lalui dapat dipastikan aman asal tak berjalan keluar dari jalur. 



(dok. pribadi)


Perjalanan lain adalah saat ke Loksado-Hulu Sungai Selatan beberapa tahun lalu. Tempat ini berada dalam satu rangkaian pegunungan Meratus, hutannya pun masih terjaga sehingga hawa sejuk pegunungan terasa begitu damai ketika sudah sampai disini. Selain itu, Loksado juga terkenal dengan wisata bamboo rafting dan beberapa air terjunnya, tak mengherankan jika Loksado jadi salah satu tujuan destinasi bagi wisatawan domestik dan mancanegara.


Agenda ku kesini sebenarnya karena acara outbound dari kantor selama dua hari satu malam. Sebelum memutuskan untuk ikut, aku sempat ragu karena belum pernah sama sekali ke Loksado. Dalam bayangan ku, tempat ini masih primitif sehingga bermalam disini rasanya seperti bermalam di alam liar. Ternyata dugaan ku salah besar.


Loksado berkembang sebagai kawasan wisata yang bagus dengan fasilitas yang cukup lengkap, penginapan dan villa yang ditawarkan pun sangat menarik. Termasuk villa tempat kami bermalam ini, depannya dilalui aliran sungai Amandit yang cukup deras. Riak air pun masih terdengar dari dalam villa, rasanya persis seperti mendengar suara deburan ombak pinggir pantai. Menenangkan.


Besok paginya, kami mengunjungi air terjun sekitar sini dengan berjalan kaki. Jaraknya cukup jauh, tapi pemandangan disepanjang jalan tak membuat ku merasa lelah karena selalu saja ada hal yang menarik perhatian ku. Salah satunya aktivitas penduduk (suku dayak) yang sedang menjemur rempah-rempah hasil hutan, seperti kayu manis, kemiri, lada dan berbagai macam rempah dapur lainnya.


Kami berjalan terus masuk ke dalam hutan dengan jalan yang mulai menanjak, dari sini mulai terdengar suara tonggeret dan kicauan burung. Bahkan jika sedang beruntung, bisa saja bertemu bekantan. Namun sayangnya hari itu bukan hari keberuntungan kami.  Perjalanan terus berlanjut mengikuti jalan setapak menuju air terjun, sambil sesekali kami juga bertemu warga yang baru saja turun dengan memikul sekeranjang penuh kayu manis. Sungguh betapa kehidupan disini sangat bergantung pada hasil hutan.


Suara gemericik air terjun sudah terdengar, aku mempercepat langkah sambil berjalan hati-hati melalui aliran air dengan bebatuan yang cukup licin. Sesekali ada beberapa ikan kecil berenang disekitar kaki ku. Tak berapa lama terpampang lah pemandangan di depan ku. Sebuah air terjun yang tidak terlalu tinggi dikelilingi pepohonan hijau membuat sejuk suasana. Airnya pun segar. Memang tak sia-sia melakukan perjalanan kesini. Melihat pemandangan yang ada membuat rasa lelah hilang seketika, aku hanya berharap semoga apa yang ku rasakan saat ini bisa terus bertahan lama, tak hanya dinikmati oleh kita, tapi bisa dinikmati sampai anak cucu kita nanti.



(dok. pribadi)

Dari sini aku menyadari bahwa hutan bukan suatu hal yang mengerikan, tapi bukan pula untuk diremehkan sehingga tidak perlu waspada saat bertandang ke hutan. Adapun rasa sejuk dan tenang yang dirasakan hanya segelintir manfaat dari adanya hutan, oksigen yang dihirup, serta bumbu rempah didapur kalian hampir sebagian besar berasal dari hutan. Flora, fauna dan manusia secara berkesinambungan membentuk suatu ekosistem yang tak bisa terlepas dari hutan, bahkan penduduk yang tak berada dekat dengan hutan pun turut merasakan manfaatnya. Jika memang sudah sangat sebergantung ini, lantas masih kah kita tega untuk membiarkan luas hutan yang semakin berkurang setiap tahunnya?


Dilansir dari kbr.id, menurut data BPS luas tutupan hutan yang hilang di Indonesia dalam periode waktu 2014 sampai dengan 2018 berkurang sekitar 1,4 persen atau sebesar 2.685.012 hektare dalam kurun waktu lima tahun dan ini terjadi hampir diseluruh pulau di Indonesia. Khususnya bagi penduduk Sumatera dan Kalimantan sendiri pasti sudah tidak asing dengan kabut asap hasil kebakaran hutan yang hampir menjadi langganan setiap musim kemarau tiba. Meskipun ada beberapa faktor lain yang jadi penyebab berkurangnya luas hutan antara lain peristiwa alam, penebangan hutan, reklasifikasi lahan hingga pertumbuhan penduduk.


Melihat itu semua, penggiat lingkungan dan sejumlah relawan berinisiatif bahu membahu untuk mempertahankan hutan yang ada sehingga lahirlah Hari Hutan Indonesia pertama yang jatuh pada tanggal 7 Agustus 2020. Hari Hutan Indonesia bertujuan sebagai momen refleksi agar hutan yang ada perlu dijaga bersama oleh setiap orang agar tetap ada, selain itu juga sebagai ajang untuk gotong royong menyuarakan ke khalayak yang lebih luas lagi akan pentingnya kesadaran dalam menjaga hutan dan peran hutan terhadap berlangsungnya kehidupan di bumi.



Hari Hutan Indonesia (sumber : instagram hutanituid)


Saat ini sudah ada beberapa program menjaga hutan jarak jauh untuk kalian yang belum bisa terjun langsung dalam kegiatan menjaga hutan dan tempat tinggalnya jauh dari hutan, diantaranya adopsi hutan dan mengasuh pohon. Adopsi hutan adalah program donasi untuk membantu masyarakat penjaga hutan Indonesia. Dana yang terkumpul akan digunakan lembaga masyarakat setempat untuk patroli hutan desa/adat, modal wirausaha produksi hasil hutan non-kayu dan klinik kesehatan warga. Sedangkan pohon asuh adalah program yang memberi kita kesempatan untuk mengasuh pohon di hutan yang sudah dipelihara masyarakat sekitar. Kalian juga bisa menjadikan pohon asuh ini sebagai hadiah untuk orang terkasih.


Adopsi hutan dengan donasi (sumber : instagram hutanituid)


Langkah Mengasuh Pohon (sumber : instagram hutanituid)


Manfaat Mengasuh Pohon (sumber : instagram hutanituid)


Melalui berbagai program ini diharapkan kita semua dapat terus berpartisipasi dalam menjaga hutan, karena menjaga hutan jaman now bisa dilakukan oleh siapapun, dimanapun dan kapanpun. Selain itu masih ada banyak lagi rangkaian acara menarik dalam memeriahkan Hari Hutan Indonesia yang berlangsung sampai tanggal 31 Oktober 2020 nanti. Kalian bisa follow instagram hutanituid dan subscribe youtube Hari Hutan Indonesia agar tidak ketinggalan update info terbaru mengenai jadwal acaranya, selain itu ada banyak sekali narasumber dan pengisi acara dari berbagai kalangan yang turut berpartisipasi. Makanya jangan sampai ketinggalan dan terus sebarkan kesadaran kepada yang lainnya agar terus menjaga hutan.





Salam hutan lestari!



Sumber :

1. kbr.id : https://m.kbr.id/nasional/12-2019/periode_pertama_jokowi__luas_hutan_indonesia_berkurang_2_6_juta_hektare/101770.html#:~:text=%22Luas%20tutupan%20hutan%20yang%20hilang,di%20semua%20pulau%20di%20Indonesia.

2. Instagram hutanituid : https://instagram.com/hutanituid?igshid=1sgzlxoikwfe6

3. Youtube Hari Hutan Indonesia : https://www.youtube.com/channel/UC9ZTR-RxXf-HKZl2f-QehJw

4. Foto background : MI/Denny Susanto

5. Pohon Asuh : https://pohonasuh.org/

Share:

Kamis, 09 Juli 2020

#FBBKolaborasi Bincang Blogger Bersama Ruli Retno

Halohaa..

Setelah sekian lama, aku kembali hadir dengan tema tulisan baru yaitu bincang blogger. Tema ini hadir untuk meramaikan FBB Kolaborasi bulan Juli. Berbeda dari bulan-bulan sebelumnya, kali ini FBB Kolaborasi mengangkat topik mengenal lebih dekat dengan anggota FBB itu sendiri. Dalam FBB Kolaborasi kali ini aku berkesempatan untuk berbincang bersama Mba Ruli Retno Mawarni, salah satu founder FBB. Selain founder FBB, beliau juga aktif di kegiatan sosial lain seperti SAYDA (Sayangi Anak Yatim dan Dhuafa) dan GPL (Gerakan Peduli Lansia).  Sstt.. dua kegiatan sosial tersebut beliau juga foundernya loh.

Dan satu lagi, Mba Ruli juga aktif sebagai koordinator team media di halalcorner.id. Tentu saja, kalian bisa menemukan cerita keseharian Mba Ruli di blog pribadinya www.ruliretno.com dan beberapa media sosial lain, seperti instagram dengan username ruliretno.



Okey, langsung aja kita ke Mba Ruli. Halo, Mba Ruli, apa kabar? Gimana kesehariannya nih, kesibukannya sekarang apa aja?

Halo juga, Helka. Alhamdulillah masih diberi kesehatan meskipun ditengah pandemi seperti ini ya, hm, kesibukan ku saat ini pastinya jadi IRT, tapi masih tetap handle SAYDA & GPL, kegiatannya masih tetep running sampai saat ini loh. Selain itu, di halalcorner.id juga masih aktif. Selebihnya ya ngeblog.

 

Banyak juga ya kegiatan sosial yang Mba Ruli ikuti, terus untuk ngeblog sendiri gimana, Mba, apakah punya waktu khusus untuk ngeblog?

Ga punya sih, kapan pun mau nulis ya nulis. Bahkan sambil jalan di mall, misal nunggu jadwal bioskop gitu tetep bisa nulis. Tapi biasanya aku lebih memilih menyelesaikan tugas utama ku dulu, sebagai istri dan ibu sama ibadah juga, baru megang blog dan kegiatan lain.

 

Wow, hampir tidak ada waktu yang terbuang percuma sama Mba Ruli, lantas perkenalan Mba Ruli sendiri dengan dunia blog itu awal mulanya gimana, Mba?

Hahah gak mikir kesitu juga sih padahal, cuma kadang pas lagi nunggu atau lagi diem gitu ada aja ide nulis yang muncul. Takut hilang idenya, aku tulis aja. Nanti begitu ada waktu baru aku kembangkan lagi dan finishing.

Kalau cerita awal aku kenal blog itu sejak 2008, langsung punya blogspot tapi isinya cuma cerita alay masa kuliah, setelah resign kerja jadi IRT lalu aku memutuskan untuk lanjut ngeblog lagi tapi tulisan alaynya udah dihapusin, semua diganti jadi tulisan yang lebih bermanfaat.

 

Oalah, berarti Mba Ruli ngeblog udah sekitar 12 tahunan dong ya, meskipun sempat hiatus juga. Selama itu, pernah ngga sih Mba, ngerasa jenuh atau bosan? Sampai rasanya males buat ngeblog lagi?

Rasa jenuh dan bosan itu pasti ada ya, berkali-kali malah. Tapi aku ga pernah mau pergi dari blog.

 

Kenapa gitu, Mba? Apakah ngeblog itu jadi sebuah candu yang ngga bisa ditinggalin meskipun udah bosan wkwk

Hahaha, ngga juga, biasanya aku kalau lagi bosan bener-bener ngga mau nulis dulu sampai moodnya datang lagi, ngerjain hobi lain aja. Misalnya gardening, masak, begitu dulu sampe mau nulis lagi. Biasanya kalau sudah lewat jenuhnya, akan kembali rindu menulis dan mood datang lagi. Ngga pernah berniat untuk pergi lama dari blog sih, apalagi kalau sedang ada kontrak kerja nulis, mau nggak mau ya dilawan dulu aja rasa bosannya.

 

Jadi blogger ini challenging juga ya Mba, meskipun website tersebut punya kita sendiri, tetep ada tanggung jawab yang harus dipenuhi. Selain untuk membesarkan blog kita, juga demi para pembaca setia dan client hehe. Nah, untuk Mba Ruli sendiri kan dulunya pasti berawal dari blogger pemula juga, masih belum ngerti sama seluk beluk blog. Saat itu, Mba Ruli belajar dari mana? Apakah Mba ikut kelas khusus untuk blogger pemula?

Aku belajar sendiri sih, otodidak, sambil nyimak sharing dari para suhu juga, terus searching sendiri mengenai kendala yang aku hadapi selama ngeblog. Kelas blogger sendiri, jarang aku temuin. Kalau pun ada, kebanyakannya offline dan lokasinya ada di Pulau Jawa.

 

Iya sih, Mba. Emang jarang ada kelas blogger, apalagi yang online ya. Makanya aku lebih suka mantengin blog yang isinya banyak tentang tips blogging hehe. Mba Ruli sendiri juga udah cukup lama malang-melintang di dunia blogger kan, selama itu ada suka dukanya tersendiri ngga Mba? Tantangan terbesar selama Mba Ruli ngeblog gitu?

Tentunya ada dong, apalagi sukanya banyak banget. Nambah temen dan relasi pastinya, pundi-pundi rupiah juga salah satu bonus, menang lomba nulis dan membantu mencegah stres. Hm, kalo dukanya ada sih, tapi nggak begitu mendalam, paling cuma kalah lomba blog, terus sedih karena ilmunya ngga nambah-nambah. Kalau tantangan terbesar yang aku hadapi selama ini sih, manajemen waktu dan manajemen mood.

 

Kayanya manajemen mood ini jadi masalah hampir semua blogger yak hoho, aku kadang juga gitu. Udah selama ini ngeblog, adakah target yang masih belum tercapai Mba?

Pastinya ada, aku tipe orang yang nggak pernah puas di satu titik. Diantaranya pengen punya DA & PA bagus dan adsense yang gede, pengen punya tulisan yang bermanfaat bagi sejuta umat dan pengen jadi langganan pemenang lomba blog. Aamiin.

 

Aamiin, semoga apa yang Mba Ruli targetkan bisa tercapai semua ya. Terus harapan atau pesan Mba Ruli buat para blogger, terutama yang ada di Kalimantan Selatan nih?

Dari dulu sebenernya banyak blogger dari kota lain diluar Kalsel yang pengen gabung di komunitas FBB sendiri tapi kami ngga menerima, setidaknya yang gabung FBB harus domisili Kalsel atau domisili tempat lain tapi keturunan orang Banjar. Tujuan utamanya tentu saja untuk memajukan wanita (blogger) Kalsel. Dan ternyata benar, setelah FBB terbentuk nampaklah siapa-siapa blogger yang punya prestasi, meskipun ngga semuanya berprestasi dibidang blogging aja tapi keliatan bahwa wanita Kalsel ternyata ngga kalah keren sama perempuan dari kota besar lainnya. Bahkan untuk di Kalimantan sendiri, FBB cukup menonjol dan mampu bersaing dengan blogger lain.

Harapan ku untuk blogger Kalsel semoga semakin berprestasi, wanita Kalsel bisa juga sekeren wanita lain dikota besar sana, blogging bisa jadi sarana yang tepat untuk mengembangkan skill, menambah cuan, dan pelarian dari stres kehidupan hahaha. Segitu aja mungkin ya.

 

Huaaa, terharu aku tu, sekaligus bangga bisa diterima dikomunitas ini. *peluk Mba Ruli*

Terima kasih ya, Mba, atas waktunya. Terakhir nih, siapa aja blogger favorit Mba Ruli?

Blogger favorit aku itu Langit Amaravati, Pungky Prayitno, Carolina Ratri, Mira Sahid, etc. Masih banyak sih, sebenernya, yang aku sebut itu cuma beberapa.

 

Mantap, Mba. Mungkin sekian dulu bincang blogger kita bersama Mba Ruli Retno. Semoga ada faedah yang bisa diambil dari perbincangan kita kali ini, sampai jumpa lagi dilain kesempatan.

 

Cheers,

Helka.


Share:

Rabu, 22 April 2020

Lari Dari Kesibukan

Rutinitas bisa mematikan kreativitas, begitu kata salah seorang penulis.

Benar saja.

Sehari setelah memutuskan untuk mengambil cuti, aku sempat bingung akan melakukan apa. Mulai dari mana. Padahal 3 bulan telah berlalu dari sejak terakhir aku mengambil cuti, cukup banyak waiting list kegiatan yang ingin ku kerjakan yang tertunda karena rutinitas.

Membuat bunga flanel, menyelesaikan tugas kuliah, update tulisan di blog, memulai bisnis sampingan, membaca buku, menonton film atau kdrama series yang lagi hits, mempelajari skill baru sampai merawat tanaman mint yang baru ku beli beberapa hari lalu.

Aih, banyak kali ingin ku. Ingin ku masih terlalu idealis ditengah suasana krisis. Tentu tak semua bisa ku kerjakan bersamaan.

Sejak akhir tahun 2019, rencana yang aku susun semuanya terbengkalai begitu saja. Aktivitas ku di dunia blogger yang sudah mulai tertata dan blog ku mulai bernyawa, terpaksa hiatus kembali.

Bahkan kegalauan saat itu kian memanjang sampai sekarang, itulah mengapa aku memutuskan untuk mengambil cuti. Rehat sejenak dari rutinitas. Mencoba kembali bangkit, mengumpulkan potongan yang telah lama berantakan.

Ya, kegalauan yang ku hadapi berat sekali, setidaknya untuk porsi ku. Sebuah hantaman keras menyerang mental ku yang belum siap. Aku sempoyongan, hampir menyerah dengan semuanya. Mungkin lain kali akan ku bahas khusus dalam satu postingan tentang cara ku bangkit dari keterpurukan.

Sekarang aku coba berdamai dengan keadaan, mulai menerapkan prinsip mindfulness dan semua self healing yang bisa ku lakukan.

Kali ini, hanya ini yang dapat ku tulis setelah lama tak menulis. Melemaskan frasa yang mulai kaku karena lama tak berlaku. Sampai jumpa.


Share:

Jumat, 31 Januari 2020

Resensi Buku Jika Kita Tak Pernah Jadi Apa-apa

(dok. pribadi) 

Judul Buku : Jika Kita Tak Pernah Jadi Apa-apa
Penulis : Alvi Syahrin
Penerbit : Gagas Media
Tahun terbit : 2019
Kota Terbit : Jakarta Selatan
Ukuran Buku : 13 x 19 cm
Jumlah Halaman : xii + 236 halaman

Sedikit cerita sebelum mulai meresensi, jadi proses aku mendapatkan buku ini penuh drama sekali. Waktu itu aku lagi penasaran tentang buku Jika Kita Tak Pernah Jatuh Cinta sampai stalk ke akun instagram penulisnya. Ternyata beberapa hari yang lalu, penulisnya baru aja tutup PO buku Jika Kita Tak Pernah Jadi Apa-apa.

Buku yang satunya aja belum terbeli, malah muncul lagi satu. Aku langsung baca baca dong sinopsis buku yang satunya, dan langsung jatuh cinta begitu baca sinopsis, relate kali sama apa yang aku hadapi beberapa hari terakhir ini.

Kecewanya, aku harus menunggu sedikit lebih lama sebelum bisa menikmati isi buku ini secara utuh dan juga ngga dapat TTD Eksklusif dari bang Alvi Syahrin huhu.

Aku berpasrah buat nunggu sampai ke gramedia dikotaku. Lalu, beberapa hari kemudian semesta berkata lain. Bang Alvi mengumumkan di instagram kalau dia masih menyimpan beberapa buku sisa PO kemarin, rencananya mereka langsung yang akan packing dan mengirimkan buku buku tersebut kepada para pembaca. Paket yang akan didapatkan pun sama seperti saat PO. Bertanda tangan dan ada merchandise eksklusifnya pula. Wow.

Aku excited dan langsung ingin checkout, tapi lagi lagi sudah sold out. Arghhh… gercep kali pembaca mu ini bang.

Wajar aja sih, wong aku mau checkout 2 jam setelah pengumumannya. Aku berpasrah lagi.


Esoknya, muncul lagi story yang mengabarkan masih ada stok hit n run dari pembeli sebelumnya. Tak perlu pikir panjang, aku langsung checkout dan bayar biar dramanya gak tambah panjang lagi. Baru setelah status pengemasan jadi pengiriman, aku bisa berlega hati. Fiuh… alhamdulillah masih berjodoh.

starter pack PO. (dok. pribadi)



akhirnyaa.. aku dapat buku ber-TTD (dok. pribadi)



Selain buku JKTPJAA, aku juga memesan buku What's So Wrong About Your Life-nya Bang Ardhi. Satu paket lengkap untuk memanduku mengarungi kehidupan. Kapan kapan akan aku resensi juga buku tersebut.

Oke, mari kita lanjut membahas tentang apa isi buku JKTPJAA.

Buku ini berisi tentang kegelisahan terhadap masa depan. Dimana realita kehidupan dimulai. Mulai dari lulus SMA, sibuk mempersiapkan diri untuk lanjut ke perguruan tinggi negeri favorit, ada yang berhasil, ada yang tidak. Terjebak gap year. Lalu kehidupan masa kuliah. Tekanan orang tua dan standar kehidupan dari orang-orang pada umumnya. Masa pengangguran. Cari kerja. Mulai bekerja. Bosan dan lelah dengan problematika pekerjaan. Ingin resign. Ingin berwirausaha. Hingga keinginan untuk menikah ketika sudah lelah sekali dengan apapun yang dihadapi. Semuanya dibahas disini.

Buku ini ngga terkesan menggurui, apalagi sok tau. Ia hanya seperti teman yang menceritakan kisahnya sendiri melewati masa-masa itu. Kamu akan merasa ngga sendirian lagi. Sebab bukan hanya perahumu saja yang terombang-ambing di samudera kehidupan penuh ketidakpastian ini. Tapi mereka juga. Sikap dan cara pandang saja yang membuatnya berbeda.

"Namun, selalu ada cerita yang tak pernah diungkapkan secara utuh. Cerita yang dia sendiri tidak minati; yang dia ingin kubur dalam-dalam. Sekali lagi, kita hanya lihat indahnya." (Hal. 184).

Ada pula tentang kita yang selalu menuntut ini itu agar semua dapat berjalan sempurna, lancar, sesuai harapan, sesuai ekspektasi, padahal kita sendiri masih berada didunia. Tempatnya segala ketidaksempurnaan.

Hingga yang paling menohokku, buku ini juga mengingatkan kita pada kematian. Tentang betapa tidak berartinya semua perjuangan dan waktu yang dihabiskan demi mengejar duniawi itu ketika kita sudah berhadapan dengan kematian.

Jangan pula setelah mengetahui fakta paling pasti tersebut kita jadi diam saja tak melakukan apapun. Justru dari semua proses dalam setiap fase hidup itulah kita akan menemukan nilai yang membuat kita lebih bijaksana dalam memaknai semuanya.

Karena itu, buku ini berjudul Jika Kita Tak Pernah Jadi Apa-apa.

Hampir sulit menemukan cela dari buku ini, karena Bang Alvi sudah membahas semuanya. Kecuali fase after marriage wkwk.

Oh, dan juga tentang anak SMK. Tentang mereka yang kebanyakannya setelah lulus langsung mencari kerja dengan hanya bermodal ijazah SMK dan sertifikat keahlian, serta modal sertifikat praktek kerja industri. 

Ya, dibuku ini tak dibahas secara khusus tentang itu, tapi kalian yang alumni SMK tetap bisa dapat pencerahan dari beberapa bab yang menyinggung tentang setelah lulus SMA tidak bisa lanjut kuliah, tapi tetap menuntut ilmu, mempelajari skill-skill baru, memaksimalkan kemudahan akses informasi dan kursus pelatihan online gratis/berbayar agar menjadi nilai tambah bagi kita sendiri.

Meskipun pada akhirnya semua itu akan kalah jika kita tetap ingin bekerja pada kantor yang mengutamakan sarjana menjadi syarat utamanya. Memang ada beberapa posisi dan kantor yang menetapkan sarjana menjadi syarat mutlak.

Tapi jangan berkecil hati. Karena kita sudah punya skill, kenapa kita tidak membuka peluang sendiri. Tak ada yang sia-sia jika kita sudah berusaha dan berserah pada Yang Maha Kuasa. Aku percaya itu.

Dan kalian juga akan menjumpai kisah ajaib yang dialami langsung oleh Bang Alvi, selaku penulisnya.

Aah, aku sangat merekomendasikan buku ini sebagai salah satu bacaan kalian yang masih bingung dengan masa depan dan agar kalian semakin penasaran, aku akan menyisipkan kalimat-kalimat yang mengena dari buku ini. Happy reading.

"Kita… hanyalah sekumpulan tulang-belulang yang terjebak dalam cerita yang tak kita inginkan." (Hal. 20).

"Bagiku, kesuksesan di dunia ini adalah bisa merasa cukup." (Hal. 33)

"Well, selamat datang di kehidupan; sebuah dunia di mana rintangan tak akan pernah berakhir. Kita selalu sok tahu tentang kehidupan. Mengira satu kondisi adalah satu-satunya solusi atas masalah kita. Namun, setelah solusi ditemukan, kita akan bertemu lagi dengan masalah baru. Begitu terus. Melelahkan memang." (Hal. 42)

"Kita tak pernah tahu akan jadi apa. Meski kita tahu kita ingin jadi apa. Kita tak pernah benar-benar tahu. Jadi, kita butuh belajar. Kita butuh ilmu." (Hal. 47)

"Kita tak ingin dibandingkan, tetapi kita terus membandingkan." (Hal. 66)

"Coba segalanya. Maksimalkan usahamu. Sampai tak ada pilihan yang tersisa selain.. ubah haluan." (Hal. 87)

"Kita tinggal di dunia yang tak sempurna; diisi oleh orang-orang tak sempurna; tetapi, menuntut kesempurnaan." (Hal. 114)

"Jadi, apa makna keluar dari zona nyaman jika ujung-ujungnya yang dicari juga kenyamanan?" (Hal. 178)

"Namun, di lubuk hati terdalam, kita diam-diam merasa butuh validasi orang-orang kalau kita memang sudah sukses dan bahagia." (Hal. 192)

"Dan, begitulah saat kita mati: Kita mengira telah mempersiapkan sebaik-baiknya, tetapi yang kita persiapkan hanyalah masa depan duniawi, melalaikan masa depan akhirat." (Hal. 197)

"Selama ini, kita selalu berpikir dan memperjuangkan agar memiliki hidup yang menenangkan. Sayangnya, kita lupa dan berjuang agar memiliki mati yang menenangkan." (Hal. 202)

"Kita tak pernah tahu akhir kisah seseorang. Kita bahkan tak tahu akhir dari diri kita. Jadi, tetaplah merendah." (Hal. 214)

"Maksudku, hidup ini penuh ketidakpastian dan kekecewaan." (Hal. 219)

Share:

Jumat, 03 Januari 2020

Kilas Balik Tahun 2019

(image 2019 via pinterest)

Tak terasa hari ini sudah berada dipenghujung tahun 2019. Hari demi hari tak sedikitpun berlalu tanpa cerita. Selalu ada kesan suka dan duka yang telah dilewati, menempa diri agar lebih baik lagi di tahun berikutnya.

Menurut ku pribadi sendiri, tahun 2019 ini menjadi tahun yang penuh kejutan, tekanan, cerita dan segala hal yang tak dapat ku sangka. Tahun pertama yang memaksa aku harus keluar sepenuhnya dari zona nyaman.

Dan sebagai bentuk apresiasi kepada diri sendiri, aku menuliskan kesan, suka duka dan pencapaian ku di tahun 2019 pada postingan ini. Agar kelak jadi pengingat saat aku hampir menyerah di tahun berikutnya. 

Mulai dari….


Januari

Bulan pertama ku di tahun 2019 adalah masa beradaptasi di lingkungan kerja baru. Setelah satu bulan diterima bekerja disalah satu perusahaan swasta, aku banyak mempelajari hal baru. Bertemu dengan orang baru.

Kebetulan posisi kerja ku ini mengharuskan untuk berinteraksi selalu dengan orang-orang, makanya begitu ada waktu untuk sendirian. Aku lebih memilih sendiri, karena saat sendirian aku merasa energi ku seperti dicharge ulang.


Februari

Yeay, bulan kelahiran.

Februari tahun 2019 usia ku genap 20 tahun. Kata orang, diusia segini merupakan pintu gerbang menuju fase quarter life crisis. Tapi aku tak peduli. Toh, sejauh ini semuanya masih baik-baik saja

Dan dibulan ini pula aku mulai berkeinginan untuk kembali menghidupkan blog ini, setelah sekian lama rehat.


Maret

Tak ada hal yang spesial.

Dibulan ini aku lebih menunjukkan keseriusan ku dalam mengelola blog. Aku mulai rajin menulis hal yang bisa ku tulis dan layak dibaca, curhatan alay tentang cinta sudah ku buang jauh jauh dari jejak peradaban blog ini. Kemudian agar semangat ku tak naik turun dalam mengelola blog, aku mulai mencari komunitas yang sekiranya bisa mendukung hobi ku.


April

Dan akhirnya dibulan ini aku resmi jadi salah satu anggota komunitas blogger hits asal Kalimantan Selatan yaitu, Female Blogger Banjarmasin. Sebuah komunitas blogger perempuan yang tetap solid dan kompak, meski anggotanya berasal dari daerah yang berbeda-beda tapi masih satu provinsi.

Senang kali, akhirnya punya rekan sehobi dan di komunitas ini juga aku banyak dapat ilmu tentang dunia blogger yang bermanfaat untuk keberlangsungan masa depan blog ku.


Mei

Setelah berhasil jadi bagian dari komunitas didaerah ku. Aku mulai merambah mencari komunitas blogger lain dengan skala nasional. Ternyata ada. Salah satunya adalah Blogger Perempuan Network.

Oiya, dibulan Mei ini aku juga mengikuti blog challenge pertama yang bertema Ramadhan. Tentu saja acara ini diadakan oleh Blogger Perempuan Network.


Juni

Lebaran tahun ini jatuh di bulan Juni.

Menariknya, selain dapat THR, aku juga berhasil menyelesaikan tantangan menulis blog dengan berbagai tema selama Ramadhan dan jadi salah satu dari 5 pemenang tantangan. Sebuah pencapaian pertama yang luar biasa sekali buat ku


dok. pribadi


Juni

Lebaran tahun ini jatuh di bulan Juni.

Menariknya, selain dapat THR, aku juga berhasil menyelesaikan tantangan menulis blog dengan berbagai tema selama Ramadhan dan jadi salah satu dari 5 pemenang tantangan. Sebuah pencapaian pertama yang luar biasa sekali buat ku.

Karena tak menyangka saja, aku punya tekad sekuat itu dalam menyelesaikan tantangannya.

FYI yaa, menulis blog one day one post itu berat sekali. Meski tema sudah ditentukan perharinya apa, tapi kita tetap harus riset juga tentang isi postingan yang akan ditulis. Tidak boleh asal.
Sungguh sebuah pengalaman dan pengetahuan berharga buat ku.


Juli

Di bulan Juli tak begitu banyak hal menakjubkan yang terjadi.

Setelah berhasil memenangkan tantangan blog bulan lalu, aku jadi keranjingan untuk mengikuti lomba blog lainnya. Penasaran, ingin mengasah skill dengan menjelajah tema baru, dan mencoba peruntungan juga wkwk. Mana tau menang, soalnya hadiah lomba blog ini menggiurkan sekali.

Selain menyibukkan diri dengan ikut lomba blog, pekerjaan dikantor juga mulai bertambah, mulai muncul pula tekanan. Aku jadi harus belajar menyeimbangkan waktu antara kerja dan hobi.

Hm, ini kali pertama aku merasakan atmosfir 'drama kantor' yang sesungguhnya.


Agustus

Bulan perayaan hari jadi kemerdekaan Indonesia.
Tapi aku tak semerdeka itu untuk merayakan.
Menyedihkannya, semua lomba yang aku ikuti di bulan Juli tak satupun yang menang. Huhu.

Kabar baiknya, tepat tanggal 18 agustus 2019. Aku resmi jadi MAHASISWA!!!
Namanya juga maba, pasti masih semangat semangatnya kuliah. Jiwa masih bergelora untuk mengenal kehidupan kampus.

Hal itu terjadi pula dengan ku. Rasa syukur luar biasa karena bisa juga akhirnya mengenyam pendidikan di bangku kuliah dengan biaya sendiri. Sesuatu yang dulu hanya bisa aku targetkan dan bayangkan akan terjadi.


September

Setelah kecewa dengan hasil dari lomba blog bulan lalu, aku memilih untuk vakum lagi. Aku malas untuk menulis sesuatu yang baru lagi di blog. Ngambek ceritanya wkwk.

Di bulan september ini aku beralih fokus ke kuliah, karena kelas pertama ku dimulai. Aku harus punya first impression yang bagus dan semangat yang positif agar bisa mengarungi dunia perkuliahan yang baik selama satu semester ke depan.


Oktober

Ekspektasi tentang dunia perkuliahan yang indah dibantah habis di bulan oktober ini. Baru satu bulan, tapi aku sudah merasa cukup tertampar dengan tugas yang tak kenal kesibukan. Waktu buat leyeh leyeh habis pulang kerja sekarang mulai tersita.

Agar tetap waras, aku kembali menulis dan ikut lomba blog tipis tipis.

Lalu seakan jadi penyeimbang, aku berhasil memenangkan beberapa lomba blog dan menulis.


dok. pribadi 

dok. pribadi 




November

Kuliah lagi padat. Tugas, UTS, kerja kelompok, semuanya seakan menyita perhatian.
Belum lagi pressure dikerjaan. Bersyukurnya disaat tugas dan UTS yang padat, aku punya atasan yang mengerti situasi ku. Jadi aku masih tetap bisa menyeimbangkan keduanya.
Tapi menjelang akhir november, badai yang merubah segala pola pikir ku itu datang.


Desember

Sebuah situasi yang tak dapat aku deskripsikan.
Awalnya ku kira semua akan berjalan lancar, sesuai ekspektasi. Apalagi langkah demi langkah berlalu sebagaimana mestinya.

Namun mental ku terguncang saat berhadapan dengan hal diluar rencana ku. Diluar prediksi. Tak disangka.Kejadian yang meyakini ku bahwa ini masih di dunia, tempatnya ketidakpastian, segala hal bisa terjadi. Diluar kendali.

Aku yang tak siap melalui semuanya sempat putus asa, ingin mundur dan berpikir dunia akan berhenti begitu saja. Aku sampai pada titik dimana kegalauan ku sudah bukan tentang cinta lagi. Aku terlalu payah untuk kehidupan yang kejam.

Tapi aku sadar, mungkin inilah fase awal bertumbuh.

Beranjak dari semua yang terjadi, aku menyadari hal yang sering terlupa selama ini. Hal yang mulai terabaikan saat aku mulai berpacu dengan kesibukan.

Aku lupa dengan hakikat pemegang kekuasaan hanya ada pada Tuhan. Aku berusaha, tapi lupa menyerahkan semua hasil pada-Nya. Sang Maha Pasti.

Beruntungnya, aku menyadari semua saat guncangan yang ada masih tak begitu hebat. Sehingga aku tetap bisa bangkit lagi. Aku juga punya team support pribadi yang selalu mengingatkan dan menguatkan.

Kini aku coba berbenah dan menata semua yang bisa ku lakukan. Sisanya biar Tuhan yang menentukan.

Terima kasih untuk semua cerita dan pengalaman yang tak terduga, 2019.
Share: